TARAKAN - Secara Islami, sistem pembelajaran bisnis sebagai penunjang ekonomi rupanya telah diajarkan oleh Rasul. Di masa pandemi Covid-19 ini, penggiat ekonomi syariah terus menjadi target kaum muslimin untuk tetap bertahan dalam menunjang perekonomian dimasa ini.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kaimantan Utara, Yufrizal mengatakan bahwa ini merupakan rangkaian kegiatan menuju syariah Indonesia festival yang sudah dibuka oleh Wakil Presiden RI, Ma’ruf Amin pada Agustus 2020 lalu.
Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang signifikan, kebijakan lockdown di sebagian besar negara menyebabkan turunnya perkembangan ekonomi yang signifikan. Hal ini juga berdampak pada seluruh sendi perekonomian Indonesia, tak terkecuali pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang sukses memberikan sumbangan PAD di Indonesia mencapai 60 persen. Namun 70 persen UMKM menjadi menurun dikarenakan pandemi covid-19 yang terus menerpa Indonesia.
Belajar dari kehidupan bisnis Rasulullah yang sedari dulu telah berupaya untuk membangun strategi bisnis, komoditas yang disukai konsumen hingga menjelajahi pasar-pasar regional dan internasional. Sifat inilah yang diambil BI untuk menjadi dasar dalam setiap aktivitas bisnis.
“Ini sebagai upaya (BI) untuk menggerakan ekonomi dan usaha syariah di situasi pandemi Covid-19 ini,” bebernya.
Yufrizal berharap pihaknya dapat membantu UMKM semakin maju dalam mengembangkan usaha, memahami strategi bisnis Rasulullah serta mengimplementasikan hal yang dibuat Rasulullah dalam kehidupan berbisnis.
Sementara itu, Pendiri STIE Tazkia, Dr. M. Syafii Antonio, M.Ec menjelaskan bahwa Rasululllah merupakan pribadi yang dalam sehingga harus diselami agar mudah memahami sikap dan karakter terutama dalam bisnis. Untuk mewujudkan rasa cinta kepada Rasulullah, maka setiap orang wajib mencontohi sikapnya termasuk dalam menjalankan dunia bisnis.
“Saat ini kita lebih dekat kepada kapitalis tyle, daripada Rasul. Padahal kita tidak mungkin menjadi muslim tanpa mengikuti Rasul. Karena Rasulullah adalah the walking Quran, Rasul juga contoh terbaik untuk menjadi muslim,” bebernya.
Dalam perjalanannya, bisnis yang dilakukan Rasulullah berhasil sehingga ini menjadi sebuah hal yang harus dicontoh. Bisnis merupakan bagian terbesar dalam kehidupan Rasulullah, apalagi sejak hidup dari usia 12 tahun sudah melakukan bisnis dagang hingga usia 39 tahun. Sehingga jika dihitung, sudah menjalankan bisnis selama 27 tahun.
Dalam salah satu ensiklopedi, Rasulullah berbisnis selama 27 tahun sedang dakwah mencapai angka 23 tahun. Waktu manusia terbanyak adalah mencari nafkah dan bukan di masjid atau di musala.
Jika ingin mencontohi teladan Rasulullah dalam semangat bisnis, kaum muslimin harus mempelajari bisnis di usia sedini mungkin, misalnya dengan menjaga warung kelontong milik orang tua. Kerasnya kehidupan masa kecil dapat menimbulkan dorongan kerja keras, menghargai uang, hormat kepada pelanggan.
Rasulullah berada di lingkungan usaha dan pembisnis. Ini sangat penting karena motivasi menular, sehingga jika kita hidup di dunia orang yang menguasai bisnis dan teknologi, maka secara tidak langsung juga akan terdorong untuk belajar bisnis dengan teknologi. Dalam hal ini, lingkungan juga berpengaruh pada kehidupan berbisnis.
“Rasul ini darah dagangnya sudah mengalir dari kakeknya, paman, kerabat paman, mertua, menantu, keponakan, sahabat, dan sebagainya yang merupakan pedagang. Ketika berada di lingkungan pedagang, maka motivasi menjadi pengusaha pun akan semakin tinggi,” tuturnya.
Contoh lainnya yang dapat diteladani adalah berbisnis dengan akhlak mulia dan karakter terpuji. Untuk diketahui, modal terbesar dalam bisnis bukan uang, namun kepercayaan dan kompetensi.
Bersikap positif terhadap harta dan kekayaan juga menjadi contoh sikap Rasul. Sebab harta dapat dipakai beribadah dan bersedekah sehingga tidak boleh melupakan kewajiban shalat, dzikir, keluarga, mati dan siksa kubur.
“Ibadah itu adalah segala kegiatan yang dicintai dan diridhoi Allah. Ada ibadah yang tidak ditentukan bentuk jenisnya, seperti sedekah arsitek yang membangun masjid,” ucapnya.
Mencari nafkah adalah fi sabilillah, untuk itu siapa yang bekerja untuk orang tua atau keluarga, maka termasuk dalam kategori fi sabilillah. Dalam hal ini bisnis wajib fi sabilillah. Selanjutnya, teladan Rasul bisnis merupakan tanggung jawab karena bermegah-megahan melalaikan manusia hingga masuk ke alam kubur.
Dalam menjalankan bisnis, muslim juga perlu menjauhi hal yang haram. Hal ini pun akan menjadi tantangan besar bagi kaum pembisnis agar menghasilkan produk halal. Dalam hal ini, Rasulullah menyatakan perang dalam korupsi, sehingga ini wajib menjadi teladan kaum muslimin.
Yang berikutnya adalah menjalankan bisnis yang seimbang, antara bisnis setelah salat dan salat setelah bisnis. Dalam QS. Al-Jumu’ah (62: 10) mengajarkan manusia untuk bertebaran artinya kaum muslim harus menjadi pemain global.
“Membangun jaringan seluas mungkin, ini juga menjadi teladan bisnis Rasul. Berusaha menjadi pemain global yang menguntungkan, hal ini disebutkan dalam QS. Al-Quraisy,” tuturnya.
Rasulullah juga selalu mengusahakan kualitas terbaik dalam berbisnis. Dalam hal ini, jika bisnis telah berjalan baik, Syafii juga menyarankan agar kaum muslimin dapat tetap bersikap sederhana dan hemat meski sudah berhasil dan kaya raya, yakni dengan berbagi bersama kaum yang membutuhkan.
“Belajar dari Covid-19 ini, kita bisa menggunakan tabungan. Kalau tidak punya tabungan, maka akan kesulitan karena ada banyak hal yang tidak terduga,” katanya.
Bisnis sebagai upaya memberikan nilai tambah terbesar bagi kemanusiaan, sehingga bisnis yang dijalankan kaum Muslim wajib peduli dengan sesama manusia. Dalam hal ini, setiap pembisnis wajib memberikan manfaat sebanyak mungkin kepada masyarakat, bangsa dan negara inilah yang menjadi teladan bisnis Rasulullah. (shy/eza)
Editor : anggri-Radar Tarakan