ILMAN, salah seorang korban longsor yang berada RT 20, Kelurahan Kampung Satu Skip, Tarakan Tengah mengungkap bagian belakang rumahnya rusak tertimbun reruntuhan tanah, Senin 28 September lalu. “Setelah kejadian hari itu juga langsung dibersihkan. Dibantu juga sama para petugas dan warga sekitar,” katanya, kemarin (11/10).
Usai dibersihkan, ia sempat membongkar dinding salah satu kamar. Dinding kamar tersebut merupakan bagian rumah yang mengalami kerusakan cukup parah. Ia pun berniat ingin mengubah ruangan dalam rumah miliknya. Nantinya, bagian kamar yang sempat tertimbun tanah longsor, akan dijadikan ruang tamu. Tidak hanya itu, bagian belakang rumahnya tepatnya di bawah bukit akan disiring untuk mencegah terjadinya longsor.
“Rencananya nanti disiring dulu bagian belakang, baru akan direnovasi bagian ruangan yang rusak,” ungkapnya.
Diakuinya, dengan adanya siringan di belakang rumahnya, setidaknya bisa memberikan rasa aman apabila hujan lebat. Ia tidak bisa memungkiri, dengan kondisi bukit yang ada di belakang rumahnya saat itu, rasa ketakutan masih ada. “Nanti siringannya akan pakai kayu sama dan beton,” imbuhnya.
Ilman masih mengungsi ke rumah orang tuanya, sembari ia akan segera merenovasi rumah tersebut. Diakuinya, rumah miliknya itu sudah dua kali mengalami kejadian tanah longsor. Kejadian pertama di 2018. Namun saat itu rumah tersebut belum ditinggali olehnya. Ruangan kamar yang sempat jebol akibat tertimbun tanah longsor, juga pernah terjadi di tahun 2018 lalu. “Kami sekarang waspada aja kalau sudah hujan dengan durasi lama,” pungkasnya.
Lain lagi dengan Yezpez warga RT 17 Juata Permai, Tarakan Utara. Ia mengungkapkan, ia merupakan salah satu korban longsor akhir September lalu. Meski hanya bagian dapur rumahnya yang terdampak. Namun saat ini sudah mulai diperbaiki. “Di daerah sini memang bukitnya sangat miring, ini sudah ketiga kalinya longsor tapi baru kali ini yang memakan korban,” ujarnya.
Yezpez yang juga ketua rukun tetangga (RT) di daerah tersebut menuturkan, ada beberapa warga yang sementara belum melakukan renovasi. Ia belum memastikan apakah para warga yang terdampak parah akan kembali membangun rumah di daerah itu lagi. Namun sudah ada beberapa warga yang menyatakan masih trauma, sehingga masih enggan untuk melakukan pembangunan rumah lagi. “Dua tahun lalu itu pernah parah juga, kemudian yang bersangkutan tidak bangun lagi. Tapi sekarang kejadiannya lebih parah lagi, karena ada beberapa pohon besar yang terikut,” bebernya.
Hendi, warga Kelurahan Karang Anyar, Tarakan Barat yang merupakan korban longsor mengatakan masih akan tetap bertahan di rumah miliknya. Pada saat kejadian longsor itu, sebagian dapur miliknya sempat tertimbun tanah. “Ini sudah beberapa kali, tapi karena ini rumah satu-satunya jadi mau tidak mau diperbaiki lagi dan tetap tinggal di sini lagi,” tutur Hendi.
Diakui Hendi, rasa ketakutan akan terjadi longsor masih tetap ada, apalagi saat hujan deras turun. Saat ini, dirinya lebih meningkatkan kewaspadaan saat akan terjadi hujan lebat. Kemudian saat ini ia lebih sering mencari informasi terkait prediksi cuaca, khususnya pada malam hari.
“Jadi sekarang kalau sudah malam dan hujan turun, mau tidak mau kita waspada dan jangan sampai tertidur lelap. Kami pun sekarang tidurnya tidak ada yang di belakang, hampir semua tidur di kamar depan,” tutupnya.
MEMAKAN KORBAN JIWA
Dengan intensitas hujan yang tinggi di wilayah Tarakan, beberapa titik longsor pun terjadi. Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan, menyampaikan bahwa sejak adanya longsor beberapa tahun ini, tahun ini yang paling membawa dampak besar hingga menelan korban jiwa.
Kepala BPBD Tarakan, Ahmadi Burhan menjelaskan bahwa untuk titik longsor yang ada di Tarakan memang tersebar di beberapa kelurahan, termasuk di daerah Kampung Satu Skip, Karang Anyar, Gunung Lingkas, Karang Harapan, dan Juata Permai. Jadi untuk 20 kelurahan tidak seluruhnya ada titik longsor. Sedangkan untuk titik longsor ini, memang ada beberapa lokasi yang hampir tiap tahunnya longsor.
“Sejak terjadinya longsor di Kota Tarakan, dari informasi yang sudah dikumpulkan oleh pihak BPBD, baru tahun ini longsor memakan korban. Bisa jadi pada tahun ini posisi air laut yang memasuki puncak pasang disertai dengan hujan deras sehingga menyebabkan banjir dan longsor di beberapa kelurahan,” ungkapnya.
Selain upaya mitigasi bencana, pihaknya juga rutin mengimbau ke pihak kecamatan, lurah, dan juga termasuk melalui grup mitigasi bencana. Hal ini dilakukan sebagai salah satu pengingat untuk selalu mewaspadai bencana longsor di masyarakat yang bermukim di lereng-lereng bukit.
Selain itu, kendala BPBD di lapangan adalah banyak masyarakat yang lebih memilih tinggal di bawah lereng agar lebih dekat dengan keluarga. Pertambahan jumlah penduduk setiap tahunnya, diikuti dengan perkembangan pemukiman di kawasan perbukitan. “Tetapi kalau untuk upaya pemberian material untuk dilakukan seperti pemasangan siring, memang dari Wali Kota (dr. Khairul, M.Kes) sudah ada beberapa yang diarahkan. Tetapi kalau dari BPBD saat ini lebih fokus ke fasilitas umum yang dibutuhkan oleh korban di lapangan, tetapi kalau untuk bantuan ke rumah, hal tersebut belum kami lakukan. Jadi kami juga selalu mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada pada saat terjadi curah hujan yang lebat, apalagi struktur tanah di Tarakan yag sulit diprediksi,” tutupnya.
SECARA TEKNIS PERLU PENATAAN
Didominasi tanah berpasir, Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan perlu mengeluarkan regulasi untuk penanganan tebing, khususnya permukiman warga di daerah rawan longsor.
Dosen Fakultas Teknik Universitas Borneo Tarakan (FT-UBT), Ir. Fuad Harwadi, S.T, M.T, IPM, ASEAN Eng, mengatakan sebagian besar tanah di Tarakan merupakan jenis pasir yang mudah lepas. Sehingga sangat berbahaya ketika terkena aliran air, yang dapat membawa partikel-partikel tanah tersebut.
“Coba lihat, setelah hujan parit dipenuhi pasir karena partikel-partikel itu turun ke bawah. Maka solusinya, bukit-bukit di Tarakan ini jangan dibiarkan terbuka, karena sangat mudah partikel itu lepas. Jenis pasir yang lepas itu seperti di Gunung Selatan,” terangnya kepada Radar Tarakan.
Dilanjutkan pria yang juga merupakan ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Tanjung Selor ini, kalaupun masyarakat atau sekelompok orang terpaksa membuka lahan atau adanya keperluan membangun perumahan, maka harus dilakukan penataan atau segera ditindaklanjuti dengan membangun dinding penahan.
Dikatakannya ada dua cara membuat dinding penahan ini. Yang pertama secara alami, seperti menanam rerumputan. Yang kedua membuat dinding penahan dari konstruksi beton. Atau yang tren saat ini menggunakan bahan biosintesis untuk menutup permukaan tebing agar tidak terjadi longsor.
“Teknologi sekarang sudah canggih, banyak yang bisa mengatasi itu. Jadi pada intinya, tebing tidak boleh terbuka. Kalaupun terbuka, harus dilakukan penanganan seperti menutup tempat aliran air masuk,” jelas pria yang juga merupakan anggota Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) ini.
Lanjutnya, untuk struktur tanah yang ber isiko tinggi maka perlu dilakukan pengkajian secara teknis. Mulai dari melakukan investigasi, cek kedalaman tanah, hingga penanganan penahan dinding tanah.
“Kalau tingkat kerawanannya tinggi maka pasangkan beton atau biosintesis,” lanjutnya.
Menurutnya membangun rumah di daerah tebing boleh saja. Tapi perlu dilakukan pengkajian dan penanganan agar terjadi longsor. Dalam hal ini, Pemkot Tarakan perlu menerbitkan regulasi atau peraturan daerah (perda) untuk penanganan tebing. Pasalnya jenis tanah yang bersifat mudah lepas ini rawan erosi.
“Sebetulnya membangun rumah di daerah tebing bukan tidak boleh, tapi dilakukan perbaikan. Makanya Pemerintah Kota perlu mengeluarkan regulasi untuk penanganan tebing ini,” katanya.
Lanjutnya, tidak ditangani dengan maksimal, longsor dapat terjadi berulang. Bahkan baru-baru ini, tepatnya 28 September lalu bencana tanah longsor ini menelan 11 korban jiwa.
Dalam hal ini, Pemkot Tarakan perlu menyikapi bencana ini dengan serius. Langkah awal perlu dilakukan pemetaan atau menentukan zona merah, kuning, atau hijau.
“Misalnya mau membangun di zona yang rawan, perlu ada syarat-syaratnya. Secara teknis aman, karena kalau tidak seperti itu kasus ini terjadi berulang. Mungkin ada kerja sama dari pemerintah dan UBT untuk melakukan pengkajian zona-zona ini,” jelasnya.
Walaupun masyarakat membuat dinding penahan di daerah tebing, tidak serta merta dapat menjamin tidak terjadi longsor. Menurut ilmu teknik, secara keilmuan analisa perhitungan untuk memotong bidang longsor dan titik longsor tersebut.
“Kalau tidak salah dulu ada kasus di Gunung Selatan, dinding penahannya jebol karena ada kekeliruan. Masyarakat tidak memahami secara detail, kalau secara analisa perhitungan teknik, dia harus memotong bidang longsor,” bebernya,
“Jadi harus tahu dulu bidang longsornya di mana, setelah itu baru bisa pasang konstruksinya. Tapi kebanyakan tidak paham, akhirnya bangunnya di titik longsor,” sambungnya. (zar/agg/*/one/lim)
Editor : anggri-Radar Tarakan