Catatan
Oleh Nur Rahman / Direktur Radar Tarakan
“Ubur-Ubur di Pulau Kakaban Hilang”. Begitu sekilas narasi di caption beberapa akun citizen journalism lokal. Dua-tiga hari terakhir, kabar ini diperkuat dengan berita di media massa, yang dilengkapi pernyataan resmi penutupan kawasan tersebut dari otoritas terkait. Yakni Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau.
Disbudpar telah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, dan akan menggandeng Yayasan Konservasi alam Nusantara (YKAN) untuk meneliti lebih lanjut. Sementara ini, “hilangnya” ubur-ubur di Kakaban, disebut karena curah hujan yang sedang tinggi, sehingga mengubah tingkat keasaman di area berbentuk danau tersebut.
Entah disebut beruntung, atau bukan. Saya dan keluarga sempat dapat kesempatan berkunjung ke Pulau Kakaban, Sabtu (23/12) lalu. Kami termasuk dalam 13 orang, yang terdiri dari 10 wisatawan (termasuk satu ekspatriat asal Australia), dua motoris kapal cepat, dan pemandu yang kami panggil dengan nama Bang Laden.
Kami menjalani tur template pada umumnya. Jumat siang start dari Tarakan, menuju Pulau Derawan yang menjadi homebase. Lalu besoknya berkeliling seharian ke Maratua, Kakaban, dan Sangalaki.
Sejak H-1, Bang Laden sudah mengingatkan bahwa ada aturan di setiap objek wisata. Dari kapan harus pakai alas kaki atau tidak, aman untuk “nyebur” atau tidak, sampai penggunaan alat saat berenang atau snorkeling.
Poin lain yang dia sampaikan adalah larangan menggunakan fins, karena dapat mengganggu ketenangan arus. “Bapak-Ibu, juga mohon agar tidak melompat saat masuk ke danau, ya,” pesannya. Selebihnya, peringatan bersifat umum. Seperti menjaga kebersihan, hingga memperhatikan kondisi fisik. Terutama saat berenang.
Imbauan tentang aturan pengunjung ini, saya yakin juga disampaikan pemandu dari rombongan lain. Tapi, dengan jumlah pemandu yang mungkin satu banding sepuluh (atau lebih) dengan pengunjung, tentu imbauan lisan semacam ini tetap bisa meleset.
Sekitar satu jam saya berada di sana, terhitung setidaknya ada 2 orang yang melompat, saat masuk ke danau. Belum lagi perilaku seperti memegang dan mengangkat ubur-ubur ke atas permukaan air. Sebagai makhluk hidup, biota laut itu tentu menganggap ini sebagai ancaman.
Saya juga mendapati sejumlah pengunjung tetap memakai tabir surya saat bersiap di area pintu masuk. Hal yang saya dan istri urung lakukan, setelah mendengar penjelasan dari pemandu kami. Walaupun sunblock sudah kami beli khusus untuk tur ini.
Kalau reaksi dari campuran air hujan saja bisa memengaruhi kehidupan biota laut di sana, apalagi bahan kimia dari tabir surya atau rias wajah. Padahal, yang namanya trip di alam terbuka begini, ya harus siap gosong karena paparan matahari.
Barangkali ancaman-ancaman dari manusia itulah yang ikut memicu ubur-ubur kabur enggan menepi untuk menyapa. Mencari tempat yang lebih aman, di samping juga menemukan titik perairan dengan tingkat suhu atau keasaman yang lebih nyaman bagi mereka. Karena kalau pengunjung mau agak masuk ke tengah danau, sebenarnya mereka masih banyak.
Mulai Kamis (28/12) kemarin, area danau ubur-ubur di Pulau Kakaban resmi ditutup sementara, untuk penelitian lebih lanjut. Kabar yang tentu akan bikin kecewa pengunjung di sesi akhir pekan ini. Padahal, dari informasi sejumlah agen wisata, long weekend di penutup tahun ini adalah puncak kunjungan.
Editor : izak-Indra Zakaria