Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Pasukan Indonesia, Malaysia, dan Filipina Gelar Latihan Bersama di Tarakan

izak-Indra Zakaria • 2019-02-26 13:46:23

TARAKAN – Gangguan perompakan dan penyanderaan oleh kelompok bersenjata dari Filipina, masih menjadi momok bagi nelayan maupun pemilik kapal-kapal yang berlayar di perairan perbatasan.

Hal itu diakui Komandan Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) XIII/Tarakan Laksamana Pertama TNI Judijanto, saat menerima kedatangan prajurit Angkatan Laut dari Filipina dan Malaysia di Tarakan kemarin (25/2).

Menurut Judijanto, belum lama ini ada dua nelayan Indonesia dari pulau Wakatobi, disandera kelompok bersenjata di Filipina. Pemerintah Indonesia sedang berupaya membebaskan kedua nelayan tersebut melalui upaya diplomasi.

Menurut informasi yang diperoleh Judijanto, kelompok bersenjata tersebut meminta tebusan jika ingin membebaskan dua nelayan yang disanderanya.

“Sekarang masih ada di sana (Filipina) dan mereka meminta tebusan. Kami (TNI AL) akan mengikuti apa kebijakan dari pemerintah, karena pihak Kementerian Luar Negeri masih melakukan diplomasi untuk pembebasannya,” beber jenderal bintang satu ini.

Meski menempuh jalur diplomasi, Judijanto menegaskan bahwa TNI selalu siap setiap saat apabila dibutuhkan negara. “Kami siap setiap saat dan apa yang kami lakukan harus terukur,” tegasnya.

Di sisi lain, kedatangan pasukan dan kapal perang dari Filipina dan Malaysia di Tarakan, untuk menggelar latihan bersama Indonesia, Malaysia dan Filipina (Indomalphi).

TNI AL mengirim KRI Ajak bersama pasukannya. Sementara dari Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) mengirimkan KD Todak dan Filipina mengirimkan BRP GEN Mariano Alvarez.

“Ini merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan dari tahun ke tahun, dimulai dari dua tahun yang lalu,” ujar Judijanto.

“Tujuannya agar kita bisa mempererat kolaborasi, mempererat koordinasi, dan kita akan melakukan patroli terkoordinasi, agar tantangan-tantangan keamanan di laut ini bisa kita atasi bersama,” lanjut alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-XXXVI/tahun 1990, di sela menerima kedatangan kapal perang dan pasukan dari Malaysia dan Filipina di Pelabuhan Malundung, Senin (25/2).

Latihan bersama akan dilaksanakan dalam beberapa hari ke depan di sekitar perairan Tarakan. Selain untuk mengasah kemampuan prajurit, latihan bersama juga jadi ajang bertukar informasi seputar keamanan laut di perbatasan.

Informasi tersebut, menurut Judijanto, sangat penting untuk bahan analisa, guna memudahkan dalam melakukan penindakan terhadap gangguan keamanan di perairan perbatasan.

“Masing-masing dari Malaysia dan Filipina memiliki aset kapal, komunikasi, satelit dan sebagainya, sehingga kita perlu adanya suatu koordinasi untuk memudahkan dari pertukaran informasi. Apabila terjadi sesuatu, maka akan memudahkan untuk melakukan tindakan-tindakan terukur,” jelasnya.

Dampaknya pun sudah terasa positif sejak terjalinnya kerja sama trilateral ini. Menurut Judijanto, gangguan keamanan di perbatasan laut semakin berkurang, jika dibandingkan sebelum dilakukannya kerja sama tiga negara ini.

Tujuan latihan bersama juga bisa lebih luas. Yakni mengatasi ancaman penyelundupan barang ilegal dan terlarang melalui jalur laut.

Judijanto mengungkapkan setiap tahun selalu ada peningkatan dalam materi latihan. Misal dalam hal kemampuan alat komunikasi, kemampuan personel, hingga Standar Operasional Prosedur dengan peralatan yang baru.

“Harapan saya, masyarakat tahu bahwa TNI memiliki komitmen untuk mewujudkan keamanan di wilayah laut dan juga keselamatan pelayaran. Kita sudah memiliki komitmen tiga negara, kita sampaikan kepada seluruh dunia bahwa laut kita aman,” katanya.

“Sehingga saat kita sudah punya komitmen untuk mengamankan laut, maka segala bentuk perdagangan di laut bisa lancar, sehingga pertumbuhan ekonomi di Indonesia juga bisa berkembang dengan baik,” harapnya. (mrs/udi)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Seputar Kaltara