SEBANYAK 101 amunisi aktif kaliber 7,62 mm beserta 11 unit granat nanas, kembali ditemukan Satuan Tugas Pengaman Perbatasan (Satgas Pamtas) RI–Malaysia Batalyon Pertahanan Udara (Yonarhanud) 16/Sula Bhuana Cakti (SBC), Senin (15/2).
Granat dan amunisi dengan kode ‘I K’, diduga buatan Pakta Pertahanan Atlantik Utara, North Atlantic Treaty Organization (NATO), dan termasuk High Eksplosive atau berdaya ledak tinggi.
“Terdapat kode I K di bagian bawah selongsong atau buatan NATO. Semua amunisi yang kami temukan masih aktif dan berbahaya,” terang Dansatgas Pamtas RI–Malaysia Yonarhanud 16/SBC/3 Kostrad, Mayor Arh Drian Priyambodo.
Drian mengatakan, temuan amunisi aktif menjadi kekhawatiran bagi prajurit Satgas Pamtas. Pasalnya, sejumlah amunisi aktif tersebut ditemukan tidak jauh dari pemukiman penduduk. Terlebih, perbukitan yang diduga masih menyimpan banyak amunisi peninggalan zaman Dwi Komando Rakyat (Dwikora) tersebut, merupakan wilayah berburu masyarakat sekitar.
“Kita pun lakukan penyisiran, berbekal metal detector. Prajurit pos 19 Lumbis menemukan amunisi aktif di kedalaman sekitar 10 sentimeter dari permukaan tanah,” tutur Drian.
Menurut Drian, temuan kali ini merupakan temuan kedua. Sebelumnya pada Sabtu 6 Februari lalu, Satgas Pamtas menemukan 1.201 peluru caliber 7,61 mm di bukit yang sama. Bukit yang menyimpan banyak amunisi aktif peninggalan konfrontasi Indonesia-Malaysia, memang memiliki nama Bukit Gurkha.
Hal ini ditegaskan Kepala Desa Tau Lumbis, Panus. Ia mengatakan, penamaan Bukit Gurkha sudah terjadi sejak masa konfrontasi. “Desa Tau Lumbis waktu itu menjadi pertahanan terakhir Indonesia. Disini pasukan Malaysia dan Gurkha pernah bermarkas. Waktu itu kita masih Bulungan, bukan Nunukan dan memang namanya Bukit Gurkha,” ucapnya.
Bukit Gurkha, memiliki panjang kurang lebih 2 km, hutan masih lestri dan ragam hayati terjaga di lingkungan ini. Panus menjelaskan, dulunya bukit tersebut dinamakan Bukit Inabal. Dalam bahasa Dayak Tahol, berarti melintang.
Bukit ini berjarak sekitar 250 meter dari pemukiman penduduk. Bahkan sampai sekarang, masih banyak dijumpai lubang-lubang persembunyian. Sebagai pertahanan pasukan yang bertempur saat itu. “Jadi masyarakat tak heran kalau banyak ditemukan peluru dan granat. Di bukit inilah lokasi pertahanan kita dulu,” tegasnya. (*/lik/*/viq/uno)
Editor : izak-Indra Zakaria