Seorang warga Tanjung Harapan, Nunukan Selatan, memanfaatkan oli bekas menjadi bahan bakar memasak menggunakan kompor. Dari bahan bakar oli bekas tersebut, bahkan digunakan masak buras saat Idulfitri lalu.
DIA adalah Andi Maskur Badawi. Pria yang biasa dipanggil Maskur itu sengaja inisiatif menggunakan oli bekas untuk bahan bakar kompor, karena dampak dari sulitnya mendapatkan elpiji 3 kilogram (kg) di daerahnya.
“Ya, berawal dari sering kehabisan jatah elpiji, buat saya inisiatif mencari bahan bakar apa yang bisa digunakan memasak tapi yang ramah lingkungan,” ungkapnya, Kamis (5/5).
Kompor pun didesain khusus agar makanan yang dimasak tidak bau oli, dan cita rasanya tidak berubah. Sebab, awalnya api yang menyala menimbulkan asap hitam dan bau menyengat. Tidak heran karena bahan bakar dari oli bekas. Namun, ada beberapa cara seperti penutup panci atau kuali, asap hitam tidak akan lagi memengaruhi makanan yang dimasak.
“Saya sudah masak buras, sampai ayam palekko, masaknya sama saja seperti menggunakan elpiji 3 kg. Rasanya tidak jauh berbeda, tidak ada aroma bekas oli atau asap dan sebagainya,” tambah dia.
Oli-oli bekas dikumpulkannya dari bengkel yang dibiarkan. Berulang kali melihat itu sepulang antre elpiji dengan tangan kosong, Maskur akhirnya mencari referensi di internet, apakah oli bekas bisa dijadikan bahan bakar memasak. Setelah jauh berselancar di dunia maya, ternyata oli bekas bisa dimanfaatkan untuk memasak. Dari situ akhirnya Maskur mempraktikkannya sendiri. “Daripada oli bekas dibuang sembarangan, apalagi daerah saya wilayah pesisir yang dipenuhi petani budi daya rumput laut. Oli sudah jarang digunakan lagi, sudah jarang orang menggunakan oli untuk gergaji mesin untuk menebang pohon,” ungkapnya.
Dalam mengoperasikan kompor, oli bekas diletakkan di bagian bawah tabung berisi air bersih. Saat oli bekas dibakar, air dalam tabung lama-kelamaan mendidih. Lalu, uapnya menjadi pemicu keluarnya api dari nozzle atau pipa yang dibuat sebagai jalur keluar api. Api yang dihasilkan memang awalnya akan merah dan berasap hitam. Namun, lama-kelamaan, air bersih dalam tabung seakan memiliki peran sebagai pengatur nyala dan warna api itu sendiri. Dengan dua kompor, dia memasak selama 1 jam 20 menit, menghabiskan sekitar 7 liter oli bekas.
“Kalau dihitung-hitung, masih jauh lebih irit dari elpiji. Meski panci hitam, itu risikonya, tapi masih mudah dibersihkan daripada gosong dari kompor minyak tanah atau kayu bakar. Sementara baunya juga tidak setajam kompor minyak tanah,” tambahnya. Maskur menyebut, hasil masakannya sudah dinikmati sekeluarga. Hidangan hari raya kemarin juga hasil masakan dari kompor oli bekas.
Selanjutnya, Maskur berencana terus mengembangkan kompor oli bekas inovasinya. Dia berencana menyempurnakan kekurangannya, mulai mengakali agar asap tidak hitam, hingga menganjurkan masyarakat menggunakan kompor oli bekas. (kpg/raw/lim/dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria