Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Cerita Sopir Angkut Sembako ke Krayan, Biasa Terlantar 2 Hari 2 Malam di Hutan, Berjuang dan Lelah untuk Sembako Warga

Redaksi • 2025-05-16 13:15:00
TERLELAP: Sopir pengangkut Sembako ke Krayan Selatan menginap ditengah jalan karena mobil rusak akibat kondisi jalan.
TERLELAP: Sopir pengangkut Sembako ke Krayan Selatan menginap ditengah jalan karena mobil rusak akibat kondisi jalan.

 

Di tengah heningnya belantara Krayan Selatan, sebuah kisah pilu kembali terjadi. Kisah ini dari para sopir pengangkut sembilan bahan pokok (Sembako) antar kecamatan di daerah penghasil beras Adan.

Karena kondisi jalan yang sulit dilalui, membuat kendaraan rusak. Situasi ini mengakibatkan sopir terlantar dua hari dua malam. Kisah ini disampaikan Warga Krayan Selatan, Melvari. Sesuai dengan cerita para sopir jalan yang dilalui rusak parah. Hal ini tak hanya membuat perjalanan menjadi seperti mimpi buruk. Tetapi juga menghancurkan harapan banyak orang yang menanti kebutuhan hidup mereka.

Sebuah mobil pengangkut sembako seharusnya membawa harapan bagi warga Krayan Selatan, rusak berat di tengah perjalanan. Kerusakan itu membuat sang sopir dan rekan-rekannya terlantar, terjebak di tengah hutan.

"Mereka, berjuang bertahan di antara lumpur, dinginnya malam, dan rasa lapar yang menggerogoti. Dua hari dua malam, tanpa kepastian, tanpa uluran tangan yang datang," kisah Melvari.

Lanjutnya, persoalan yang dihadapi tidak hanya kendaraan yang rusak. Hati para sopir juga remuk. Bagaimana tidak, sembako yang mereka bawa seperti beras, minyak, gula yang sejatinya adalah denyut kehidupan bagi warga di pelosok, ikut terkunci dalam perjalanan yang tak tahu ujungnya.

"Di tempat lain, mungkin orang bisa dengan mudah mendapatkan bahan pangan hanya dengan berjalan ke warung terdekat. Namun di sini, satu mobil sembako adalah satu nafas untuk ratusan keluarga," ungkapnya.

Dijelaskan, setiap keterlambatan pengiriman sembako dan kendaraan yang mengalami kerusakan, berarti perut-perut kecil harus menahan lapar lebih lama.
"Sopir-sopir itu bukan hanya mengangkut barang. Mereka mengangkut harapan," singkatnya.

Baginya, jalanan yang rusak ada kebijakan yang abai, dan sikap acuh yang membatu membuat mereka masyarakat terluka. Baik secara fisik dan jauh lebih dalam lagi secara batin.

"Dan kami bertanya, masih adakah harapan bagi kami?Atau harus berapa banyak lagi kendaraan yang rusak, berapa banyak lagi jiwa yang terlantar, sebelum suara kami didengar," pungkasnya. (akz)

 

Editor : Indra Zakaria