Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Waspada Fase Pancaroba: Cuaca Ekstrem Intai Kotim, Musim Kemarau Tahun Ini Diprediksi Selama 120 Hari

R
Penulis: Redaksi Prokal❯
Ilustrasi kemarau
Ilustrasi kemarau

Advertisement

SAMPIT – Masyarakat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) diminta untuk tidak lengah menghadapi kondisi cuaca yang berubah-ubah belakangan ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit secara resmi mengeluarkan peringatan terkait datangnya fase pancaroba atau masa peralihan musim yang rentan memicu cuaca ekstrem.

Periode April hingga Mei 2026 ini dipetakan sebagai masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau. Karakteristik atmosfer yang tidak stabil pada fase ini menjadi ancaman nyata bagi aktivitas warga di Bumi Tabalong tersebut.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menjelaskan bahwa ketidakstabilan atmosfer selama masa pancaroba sering kali melahirkan fenomena alam yang datang secara mendadak. Bencana hidrometeorologi, seperti hujan lebat dalam durasi singkat hingga angin kencang, menjadi hal yang paling diwaspadai.

Advertisement

“Secara garis besar, kemungkinan besar kita sudah memasuki fase peralihan. Di periode ini perlu waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” ujar Mulyono pada Rabu (8/4).

Ia menambahkan bahwa kejadian ekstrem pada masa transisi ini biasanya lebih sering terjadi dibandingkan saat musim hujan normal. Salah satu risiko terbesar adalah angin kencang yang dapat menyebabkan pohon tumbang dan membahayakan keselamatan warga yang berada di jalan raya.

Mengingat cuaca di masa transisi bersifat sulit diprediksi secara akurat dalam jangka panjang, BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih peka terhadap kondisi sekitar, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan. "Yang penting tetap waspada, karena di masa transisi ini cuaca bisa berubah dengan cepat," tegasnya.

Advertisement

Kemarau 120 Hari Menanti

Setelah melewati fase pancaroba ini, Kotim diprediksi akan mulai memasuki musim kemarau pada bulan Juni mendatang. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, BMKG memprakirakan durasi musim kemarau tahun 2026 ini akan lebih panjang dari kondisi normal.

Kemarau tahun ini diperkirakan bisa berlangsung hingga 120 hari. Kondisi ini menuntut persiapan ekstra dari pemerintah daerah dan masyarakat, khususnya dalam mengantisipasi potensi kekeringan serta kerawanan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap menghantui wilayah Kotim saat musim panas panjang tiba. (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Fraksi NasDem Dorong Peningkatan Tiga Ruas Jalan di Kecamatan Kumai

Fraksi NasDem Dorong Peningkatan Tiga Ruas Jalan di Kecamatan Kumai

Juru bicara Fraksi NasDem Prasyuda Aprianto menyampaikan, tiga ruas yang diusulkan untuk ditingkatkan yakni Jalan Ampi RT 07, Candi

Jarak Pandang Terbatas, Helikopter Tidak Terbang, Menhut Beberkan Kendala Waterboom Karhutla Kalteng

Jarak Pandang Terbatas, Helikopter Tidak Terbang, Menhut Beberkan Kendala Waterboom Karhutla Kalteng

”Jarak Pandang Sangat Terbatas, Helikopter Tidak Bisa Diterbangkan!” Menhut Beberkan Kendala Waterbombing Karhutla Kalteng (Rekomendasi)

Dua Versi Drama Penembakan di Kebun Sawit Kotim, Warga dan Perusahaan Saling Tuding

Dua Versi Drama Penembakan di Kebun Sawit Kotim, Warga dan Perusahaan Saling Tuding

Saling Klaim Tembakan Peringatan, Insiden di Kebun Sawit Kotim Masih Simpang Siur

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer