Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Skandal "Kamus Usulan": DPRD Kaltim Cium Aroma Ketidakterbukaan, Anggaran Rumah Jabatan Puluhan Miliar Jadi Sorotan

R
Pembahasan kamus usulan mengemuka dalam forum publik, DPRD menyoroti keterbukaan anggaran Pemprov Kaltim yang dinilai belum transparan.
Pembahasan kamus usulan mengemuka dalam forum publik, DPRD menyoroti keterbukaan anggaran Pemprov Kaltim yang dinilai belum transparan.

Advertisement

SAMARINDA – Hubungan antara eksekutif dan legislatif di Kalimantan Timur memanas. Kebijakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim yang memangkas drastis "kamus usulan" dalam penyusunan APBD 2026 menuai kritik tajam. Kebijakan ini dianggap bukan sekadar efisiensi, melainkan upaya sistematis yang menjauhkan anggaran dari perut rakyat.

Dalam dialog publik bertajuk Pemangkasan Kamus Usulan: Efisiensi Anggaran atau Pelemahan Fungsi dan Aspirasi Rakyat? yang digelar komunitas Paradigma di Samarinda, Sabtu malam (18/4/2026), fakta mengejutkan terungkap. Anggota DPRD Kaltim dari Fraksi PAN, Baharuddin Demmu, membeberkan bahwa dari 160 usulan pokok pikiran (pokir) yang diperjuangkan dewan selama tiga bulan, hanya 39 usulan yang diakomodasi oleh pemerintah.

Ironisnya, sektor-sektor krusial seperti pertanian, perikanan, dan bantuan keuangan daerah justru banyak yang "dibuang" dari daftar prioritas. "Jika aspirasi yang paling banyak disuarakan masyarakat di akar rumput malah tidak masuk, kita patut bertanya: pemerintah sebenarnya berpihak pada siapa?" cetus Bahar dengan nada retoris.

Advertisement

Ketegangan makin memuncak saat Bahar mengungkap sulitnya akses dewan terhadap dokumen lengkap APBD selama pembahasan KUA-PPAS 2026. Alih-alih transparan, anggaran justru terkesan disembunyikan. Dampaknya, muncul pos belanja mengejutkan yang baru diketahui belakangan, seperti anggaran rehabilitasi rumah jabatan yang menelan puluhan miliar rupiah serta pengadaan kendaraan dinas mewah bernilai miliaran.

Tudingan ini langsung dijawab oleh Kabid P2EPD Bappeda Kaltim, Alfino Rinaldi Arief. Menurutnya, penyaringan ketat dilakukan demi efisiensi belanja daerah tahun 2026. Pemerintah mengklaim tengah menekan pengeluaran seremonial dan agenda luar daerah untuk menyelaraskan dengan pembangunan utama provinsi. Namun, dalih efisiensi ini justru dinilai kontradiktif oleh Koordinator Pokja 30, Buyung Marajo. Ia menegaskan sangat tidak masuk akal bicara efisiensi di saat belanja untuk kenyamanan pejabat tetap membengkak.

Akademisi dari Universitas Mulawarman, Warkhatun Najidah, dan Suwardi Sagama dari UINSI Samarinda juga memperingatkan bahwa dominasi pendekatan teknokratis yang kaku berisiko mematikan suara masyarakat bawah. Menurut mereka, kamus usulan adalah nyawa dari representasi rakyat, bukan sekadar urusan administratif di atas kertas. Polemik ini menegaskan bahwa setiap rupiah dari pajak rakyat Kaltim kini tengah dipertanyakan keberpihakannya: untuk rakyat yang bekerja di ladang, atau untuk renovasi mewah hunian pejabat? (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Target Pendapatan Terkoreksi Rp883 Miliar, KUA-PPAS Perubahan 2026 Sebesar Rp14,33 Triliun

Target Pendapatan Terkoreksi Rp883 Miliar, KUA-PPAS Perubahan 2026 Sebesar Rp14,33 Triliun

DPRD Kaltim dan Pemprov Kaltim menyepakati Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026 dengan pagu anggaran Rp 14,33 triliun dalam rapat paripurna, Sa

KPK Endus Anomali Penganggaran Kaltim, DPRD Minta Pembenahan Total Tata Kelola Pemerintahan

KPK Endus Anomali Penganggaran Kaltim, DPRD Minta Pembenahan Total Tata Kelola Pemerintahan

KPK Endus Anomali Penganggaran Kaltim, DPRD Minta Pembenahan Total Tata Kelola Pemerintahan SAMARINDA – Sinyal peringatan serius dari Komis

Anggaran Operasional Terjun Bebas ke Rp 100 Miliar, Ketua DPRD Kaltim Minta Gubernur 'Buka Mata'

Anggaran Operasional Terjun Bebas ke Rp 100 Miliar, Ketua DPRD Kaltim Minta Gubernur 'Buka Mata'

Anggaran Operasional Terjun Bebas ke Rp 100 Miliar, Ketua DPRD Kaltim Minta Gubernur 'Buka Mata'

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer