Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ririn Sari Dewi: Pelemahan Daya Beli dan Tiket Mahal Jadi Tantangan Pariwisata Kaltim

R
Penulis: Redaksi Prokal❯
Bincang bincang Dinas Pariwisata dengan wartawan.
Bincang bincang Dinas Pariwisata dengan wartawan.

Advertisement

 

PROKAL.CO, SAMARINDA - Menjelang berakhirnya masa jabatannya sebagai Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi memaparkan sejumlah tantangan yang dihadapi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif saat hadiri Bincang-Bincang Pariwisata di Hotel Grand Verona Samarinda, Selasa 30 Juni 2026. 

Ririn yang telah dilantik Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim pada Senin (29/6), menegaskan pembangunan pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. 

Advertisement

Menurut Ririn, salah satu tantangan yang kini menjadi perhatian ialah menjaga kelestarian kawasan konservasi seiring meningkatnya aktivitas wisata. Ia mencontohkan kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang tengah diusulkan ke UNESCO sebagai warisan dunia.

"Ketika status konservasi itu sudah ditetapkan, tantangannya bagaimana menjaga agar tidak rusak. Salah satu yang harus diantisipasi adalah aktivitas wisatawan yang dapat mengganggu ekosistem," ujarnya. 

Selain itu, ia menyoroti kondisi ekonomi global yang turut memengaruhi sektor pariwisata. Melemahnya nilai tukar rupiah dan tingginya harga tiket pesawat dinilai berdampak terhadap penurunan jumlah wisatawan, baik mancanegara maupun domestik.

Advertisement

Ririn mengungkapkan, kondisi tersebut terlihat saat penyelenggaraan sejumlah event pariwisata. Tingginya biaya transportasi membuat jumlah wisatawan yang datang tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya. 

Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, Ririn mengatakan pemerintah memiliki sejumlah peran strategis. Di antaranya menyusun regulasi yang mendukung investasi sektor pariwisata, menyediakan infrastruktur dasar, meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan sertifikasi, memperkuat promosi daerah, mendorong digitalisasi layanan, hingga memperluas kerja sama lintas sektor. 

Namun demikian, ia mengakui kondisi fiskal daerah saat ini membuat penyelenggaraan event berskala besar menjadi terbatas. Karena itu, Dinas Pariwisata lebih mengoptimalkan kolaborasi dengan berbagai komunitas dan mitra melalui pendekatan pentahelix maupun heksahelix.

"Karena keterbatasan fiskal, kami lebih banyak menggarap kerja sama dengan komunitas dan seluruh mitra pariwisata," katanya. 

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer