
Warga binaan Lapas Kelas IIA Balikpapan mencoba menumbuhkan harapan. Pernah salah memilih langkah, membuat mereka tak ingin mengubur mimpi dari balik jeruji. Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan bersama Lapas Kelas IIA Balikpapan hadir membantu merajut masa depan. Melalui program Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) menyediakan pengelolaan lahan pertanian.
Suara gemericik air dari pancuran terdengar memecah keheningan. Tak henti jatuh berulang ke permukaan kolam ikan. Di balik tinggi dan kokohnya tembok Lapas Kelas IIA di kawasan Stalkuda Balikpapan, sebuah lahan berukuran 7.000 meter persegi ditumbuhi hasil pertanian. Ada juga perikanan serta peternakan.
Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Sepinggan, yang menjadi program tanggung jawab sosial perusahaan, bekerja sama dengan Lapas Kelas IIA Balikpapan mengembangkan program bernama Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE).
Program ini ada sejak tahun 2022 lalu. Ada pelatihan mekanik, pembuatan perkakas, hingga pengelolaan lahan pertanian. Khusus program pengolahan lahan pertanian ini diawali sejak setahun lalu. Pertamina Patra Niaga membantu melalui penyediaan sejumlah sarana. Antara lain mesin sprayer, bahan organik berupa kotoran hewan dan sekam, bahan pembuatan pestisida alami, serta wadah fermentasi pupuk.
Program ini tak sekadar menghidupkan lahan produktif. Dukungan itu membantu warga binaan mempelajari pengelolaan lahan sekaligus mengenal cara merawat tanaman dengan memanfaatkan bahan yang tersedia. Membuka kesempatan warga binaan mengasah keterampilan sebagai bekal ketika kelak kembali ke tengah masyarakat.
Di sini, tumbuh beberapa hasil perkebunan. Ada melon, kangkung, sawi, cabai, hingga pisang. Selain perkebunan, ada juga perikanan dengan kolam berisi ikan nila dan peternakan ayam.
Tak semua penghuni Lapas Kelas IIA Balikpapan punya kesempatan “berguru” di pengolahan lahan. Ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Total, warga binaan yang terjun ke lahan ini hanya berjumlah 11 orang. Sebelas orang itu tentu sudah memenuhi kriteria. Pertama, warga binaan wajib melewati lebih dari setengah masa pidana atau lamanya hukuman penjara yang dijatuhkan berdasarkan putusan pengadilan.
Kemudian, secara administratif wajib sudah memenuhi syarat untuk diasimilasikan. “Kami juga mengecek kepribadian orang tersebut. Minat bakat. Kami pantau kesehariannya seperti apa. Jika kurang pas di pertanian, maka kami arahkan ke asimilasi lain. Misal bengkel,” jelas Setyo Djatmiko, Kasubsi Bimter dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas IIA Balikpapan.
Salah satu warga binaan yang mengelola lahan pertanian adalah Supardi. Baru enam bulan mengikuti program Sarana Asimilasi dan Edukasi, Supardi sudah menemukan bakat barunya; bertani dan beternak.
Pria asal Muara Komam, Kabupaten Paser, sudah empat tahun menjalani hari-harinya di Lapas Balikpapan. Pria berusia 42 tahun itu terjerat kasus perlindungan perempuan dan anak.
Saat masa lalunya disinggung, mata Supardi berkaca. Kepalanya tertunduk. Ada gestur tak ingin membuka memorinya. Namun awal tahun 2021, Supardi mengakui salah langkah. Ia pun harus menjalani vonis hukuman sembilan tahun tiga bulan. “Saya anggap masa lalu. Kesalahan saya dulu mau saya ubah. Saya mau menatap masa depan,” katanya, lirih.
Tak banyak kata dari Supardi. Ia masih merasa malu dengan perbuatan masa lalu. Kepada media ini, ia juga meminta agar wajahnya disamarkan jika memuat foto dirinya. Namun, dari perbincangannya, tersimpan keinginan Supardi untuk melangkah lebih jauh. Baginya, masa lalu adalah pelajaran. Masa depan adalah tujuan.
Melalui program yang didukung Pertamina lewat Lapas Balikpapan, warga binaan mendapat kesempatan mengenal kegiatan pertanian dan peternakan.
Menurutnya, bukan sekadar mengisi waktu. Ada ilmu yang bisa dibawa pulang. Ia berharap ada yang bisa dikembangkan setelah bebas nanti. “Alhamdulillah, ada respons baik. Maksudnya, ada modal untuk kita nanti setelah bebas. Kita juga sudah punya pengalaman selama di sini,” tutur penggemar klub Manchester United ini.
Dia bercerita, dulu sewaktu masih hidup di luar lapas, Supardi terbiasa mengurus kebun sawit dan karet. Memanen hasil, merawat tanaman, lalu kembali bekerja. Begitulah hari-harinya dahulu berjalan.
Kini, ia mau belajar lagi. Mencoba menapaki bakat baru satu-persatu. Tak cuma bertani, tetapi juga mengenal peternakan ayam dan menanam buah melon di Greenhouse. Lapas Kelas IIA Balikpapan belum lama ini membangun greenhouse dengan ukuran 22 meter x 11 meter. Di bangunan ini, ditanami 200 bibit melon dalam polybag.

Greenhouse menjadi ruang belajar untuk mengembangkan budidaya melon di program SAE ini. Jika pengelolaan dan kemampuan teknis semakin matang, pengembangan melon ditargetkan bisa mencapai 2.000 hingga 3.000 tanaman.
Supardi merasa tertantang. Ia lalu belajar, berproses, dan berhasil. Menurutnya, menanam melon bukan sekadar menebar benih dan menunggu buahnya matang. Ada keuletan, mulai dari persemaian, perawatan tanaman, hingga menentukan waktu panen yang tepat.
Pertama, kata Supardi, ia diajarkan cara memilih benih berkualitas. Kemudian ia semai ke dalam media tanam polybag berukuran kecil. “Benih dijaga kelembapannya hingga berkecambah. Setelah tumbuh menjadi bibit yang cukup kuat, baru dipindahkan ke lahan,” katanya.
Setelah ditanam, kata Supardi, tanaman melon membutuhkan perawatan secara rutin. Ia juga diajarkan bagaimana cara penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan, sementara pemupukan disesuaikan dengan kondisi tanah dan fase pertumbuhan tanaman. “Ada praktisi tanaman dari Pertamina yang dihadirkan. Kami diajarkan juga memantau serangan hama dan penyakit agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu,” sebutnya.
Oleh pendamping, Supardi kemudian diajarkan bagaimana buah yang mulai terbentuk kemudian dirawat hingga mencapai ukuran optimal. Ketersediaan air dan nutrisi perlu dijaga agar pertumbuhan berlangsung baik. Pada budidaya dengan sistem rambatan, buah juga dapat diberi penyangga untuk mengurangi risiko tangkai patah akibat beban.
Saat kunjungan tim Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan ke greenhouse 24 Juni 2026 lalu, beberapa buah melon sudah ada yang matang. Saat dicoba, buah melon di sini memiliki tekstur daging melon yang legit. Airnya pun terasa manis. “Wah ini rasa manisnya beda. Lebih segar dari melon umumnya. Tekstur daging buahnya juga legit,” puji, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun, yang mencoba didampingi Setyo Djatmiko.

Kepada Pertamina, Supardi mewakili warga binaan lainnya menyampaikan terima kasih. Berkat Pertamina, warga binaan terbantu melalui berbagai kegiatan pembekalan. Baginya, kesempatan belajar menjadi sesuatu yang berharga.
“Terima kasih banyak kepada Pertamina. Selama ini sudah membantu kami di sini juga dalam segala hal,” kata pria pemilik kulit warna sawo matang ini.
Saat ini, Supardi tengah menunggu proses pengajuan pembebasan bersyarat. Jika disetujui dan surat keputusan terbit, estimasi ia bisa kembali ke masyarakat pada akhir tahun ini.
Kelak, bila kembali ke Muara Komam, Supardi berencana menyentuh tanah yang dulu akrab di telapak tangannya. Menanam, merawat, lalu menunggu hasilnya datang.
Warga binaan lain yang merasakan adalah Mahmudi. Sebelum menjalani masa hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Balikpapan, Mahmudi pekerja serabutan. Berbagai pekerjaan ia lakoni. Mulai dari menjadi tukang hingga sopir. Demi mendapatkan penghasilan. Menghidupi keluarga kecilnya.

Namun, kasus perlindungan perempuan dan anak yang menjeratnya pada 2021 lalu juga mengantarkannya ke dalam sel Lapas Kelas IIA Balikpapan. Mahmudi divonis 14 tahun penjara. Ia menjalani masa pidana selama enam tahun enam bulan setelah pengurusan Pembebasan Bersyarat (PB) sesuai ketentuan yang berlaku. Ia menghirup udara bebas pada pertengahan Juni lalu. Waktu bebas, ia dijemput istri kesayangan.
Selama menjalani masa pidana, Mahmudi mendapat kesempatan mengikuti program pembekalan kemandirian melalui kegiatan pertanian dan peternakan di lingkungan lapas.
Sejak setahun terakhir, ia dipercaya mengelola lahan pertanian serta menangani peternakan ayam dan entok. Kepercayaan tersebut diberikan berdasarkan minat dan bakat yang dimilikinya. “Waktu itu saya dipilih karena minat dan bakat saya di sini. Alhamdulillah, dipercaya mengelola dan belajar di lahan ini. Mulai pertanian, terus dipercaya menangani peternakan ayam dan entok,” kata pria asal Kabupaten Paser ini.
Ia mengaku berusaha menjalankan tanggung jawab tersebut dengan tekun. Tanaman pisang yang dirawatnya juga tumbuh subur. Sementara, pekerjaan mengelola peternakan juga dijalani dengan penuh tanggung jawab. “Karena kewajiban saya, saya tekuni memang, enggak sembarangan. Makanya istilahnya sangat dipercaya oleh petugas Lapas,” ujarnya.
SUPLAI HASIL PANEN KE DAPUR LAPAS
Kasubsi Bimter dan Pengelolaan Hasil Kerja Lapas Kelas IIA Balikpapan, Setyo Djatmiko lalu menambahkan, kondisi tanah di area pertanian menjadi salah satu tantangan yang perlu dihadapi. Karena itu, warga binaan tidak hanya diajarkan cara menanam, tetapi juga memahami bagaimana mengolah dan memelihara lahan agar tetap produktif setelah panen.
Sebab, ketika satu musim tanam berakhir, pekerjaan belum benar-benar selesai. Tanah harus kembali disiapkan, tanaman berikutnya menunggu giliran. Kemudian proses pembelajaran terus berjalan.
Lahan yang hari ini menghasilkan sayuran, selanjutnya diharapkan kembali memberi hasil. Begitu seterusnya.
Pengelolaan tanah pertanian di Lapas Balikpapan mulai membuahkan hasil. Sawi misalnya, dapat dipanen dalam waktu sekitar satu bulan, bergantung pada varietas serta kondisi pertumbuhannya. Siklus yang relatif singkat itu memberi kesempatan bagi warga binaan untuk mengenali proses budidaya dari awal hingga panen.
Di balik sayuran yang dipetik dan ikan yang dipanen, hasil panen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur lapas. Sebagian lainnya dipasarkan melalui kantin di lingkungan lapas
DATANGKAN PENDAMPING PRAKTISI PERTANIAN
Bagi warga binaan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran yang nanti berguna ketika mereka kembali ke masyarakat.
Karena itu, pembinaan ini tak dilepas begitu saja. Pertamina menghadirkan Dwi Dali Mulyanto, seorang praktisi pertanian asal Bontang yang membekali warga binaan dengan keterampilan membuat pupuk dan bahan pendukung budidaya.

Dwi mengajarkan pembuatan pupuk padat dan cair untuk mendukung pertumbuhan tanaman maupun proses pembuahan. “Ada pula insektisida nabati untuk membantu mengendalikan hama, fungisida untuk mengendalikan jamur, serta bahan perekat agar cairan penyemprotan lebih mudah menempel pada sasaran,” kata Dwi.
Pria yang rutin menjadi praktisi tanaman oleh Pertamina ini lalu mengatakan, bahan-bahan yang diajarkan memanfaatkan sumber daya yang relatif mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Salah satunya kotoran ayam petelur dan ayam broiler sebagai bahan pupuk.
Bahan lain, seperti dedak, digunakan untuk mendukung aktivitas mikroorganisme dalam proses pengolahan. Racikan pupuk juga diperkenalkan dengan memanfaatkan berbagai bahan yang menjadi sumber unsur hara tanaman.
“Harapannya, ketika mereka kembali ke masyarakat, ilmu ini bisa langsung diaplikasikan tanpa membutuhkan biaya yang besar,” kata Dwi.
Pria berkacamata minus ini menambahkan, pembekalan disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Pupuk untuk pertumbuhan diperkenalkan pada sayuran. Sementara pupuk untuk pembuahan digunakan pada tanaman seperti melon, terong, cabai, dan tomat. Selain itu, warga binaan juga diajarkan membuat pestisida nabati dan bahan pengendali jamur dengan memperhatikan penggunaan serta dampaknya terhadap lingkungan.
Dwi tak menyana. Respons warga binaan ternyata sangat baik. Stigma di masyarakat sebagai orang jahat, pelaku kriminal, dan orang yang tak dipercaya pelan-pelan terpatahkan. Ternyata mereka antusias menyimak, mau belajar, dan semangat mengikuti pelatihan. Tak sekadar mendengarkan penjelasan, tetapi ikut meracik bahan dan mempraktikkan proses pembuatannya. Di kebun itu, tak hanya tanaman yang tumbuh. “Kesabaran juga harus ikut tumbuh. Ini jadi bagian penting dalam prosesnya dan sehari-hari. Karena ada tanaman yang tumbuh sesuai harapan. Tapi ada juga kemungkinan hasil yang tak selalu sejalan dengan perkiraan,” kata pria yang berdomisili dari Bontang ini.
WAKTUNYA BERUBAH! PELUANG UNTUK EKONOMI KELUARGA
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga, Edi Mangun mengatakan, pembinaan ini tidak berhenti ketika warga binaan sudah meninggalkan lapas. Ia berharap keterampilan yang diperoleh selama mengikuti program bisa menjadi bekal membangun kehidupan yang lebih lebih baik dan mandiri.
“Kalau nanti setelah kembali ke masyarakat mereka memiliki keinginan kuat mengembangkan usaha pertanian, Pertamina ingin mendorong dan membantu sesuai kebutuhan serta kemampuan program,” kata Edi.
Ia juga berharap, manfaat pembinaan tak berhenti pada pengetahuan tentang cara menanam atau merawat tanaman. Keterampilan tersebut diharapkan berkembang menjadi peluang penghidupan, memperkuat ekonomi keluarga, bahkan menjadi pengetahuan yang bisa dibagikan kepada lingkungan sekitar. “Itulah harapan perusahaan. Sekali lagi, program CSR pada akhirnya harus mampu menciptakan kemandirian masyarakat. Jadi, keberhasilan program tidak cukup hanya diukur dari pelatihan yang dilaksanakan, tetapi juga dari sejauh mana manfaatnya bisa berlanjut setelah program selesai,” ujar pria asal Papua ini.
Supardi kini masih menunggu hari kebebasannya. Sementara itu, ia terus belajar mempersiapkan diri, sedikit demi sedikit, dari tanah yang diolah dan tanaman yang dirawat.
Kelak, jika benar kembali ke Muara Komam, ia ingin bukan membawa kenangan masa-masa di balik jeruji. Tapi ia ingin membawa keterampilan yang bisa digunakan. Pelajaran dari kerasnya tembok penjara dan pengalaman yang bisa dikembangkan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Bagi Supardi dan warga binaan lainnya, harapan kembali membangun masa depan harus ia lakukan. Ikhtiar dan doa ia langkahkan beriringan. Urusan berhasil atau tidak, ia yakin biar Sang Pencipta yang menentukan. (wawan lastiawan/prokal.co)
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




