
Pernah menggantungkan hidup dari industri tambang, Rustam Effendi memilih pulang dan mengelola tanah yang dimiliki. Melalui pendampingan dari Pertamina Gas Operation Kalimantan Area (Pertagas OKA), ia belajar bertani dengan pupuk organik, menekan biaya produksi, dan menumbuhkan harapan dari lahan yang sebelumnya belum dikelola secara optimal.
Sebelum menekuni pertanian, Epen ---sapaan akrab Rustam Effendi--- menghabiskan sebagian besar perjalanan hidupnya di dunia proyek dan pertambangan. Ia mulai bekerja di sejumlah proyek pembangunan gedung dan instalasi listrik di Kalimantan Timur sekitar 2003, sebelum kemudian berpindah ke Balikpapan pada 2005 lalu.
Kariernya berlanjut di sektor pertambangan. Pada 2008, ia bekerja di perusahaan tambang Benua selama sekitar tiga tahun. Setelah itu, ia sempat bergabung dengan kontraktor tambang di KPC selama kurang lebih satu setengah tahun.
Pada 2009, setelah menikah, Epen kembali bekerja di proyek pembangunan di Bontang. Ia terlibat dalam proyek pembangunan pabrik Kaltim 4 dan Kaltim 5, termasuk pekerjaan boiler. Perjalanan kerjanya kemudian berlanjut ke sektor pertambangan, mulai dari pekerjaan elektrik hingga menjadi petugas keamanan.
Namun, setelah bertahun-tahun bekerja jauh dari keluarga, Epen mulai memikirkan pilihan hidup yang berbeda. Pada 2022, ia memutuskan berhenti bekerja di sektor pertambangan dan memilih berkebun. “Alasan utamanya ingin dekat sama keluarga. Sudah capek juga, terlalu banyak deadline. Kalau bekerja di perusahaan, waktunya terlalu kaku. Saya mau yang fleksibel,” tutur pria berusia 43 tahun ini.
Saat itu, ia telah memiliki tiga anak yang tinggal bersama keluarga di Bontang. Ia ingin menjalani kehidupan yang lebih dekat dengan keluarga.
Pertanian pun bukan bidang yang benar-benar asing baginya. Epen mengaku memiliki latar belakang keluarga petani. Semasa masih duduk di bangku SMP di Bontang, ia kerap membantu orang tuanya menanam sayuran. Ia juga tak pusing soal lahan. Epen sudah punya lahan sendiri dari orang tua.
Bekal pengalaman itu membuatnya mantap menekuni pertanian setelah berhenti bekerja. Bahkan, sebelum meninggalkan pekerjaan di tambang, ia telah mempersiapkan lahan dan sejumlah peralatan yang dibutuhkan, mulai dari pompa air hingga cangkul. “Alhamdulillah langsung berhasil. Sebelum berhenti dari tambang, saya sudah persiapkan lahannya. Alat-alat seperti pompa air dan cangkul juga sudah disiapkan,” ujar pria asal Enrekang, Sulawesi Selatan ini.
Epen lalu menggarap lahan pertanian seluas sekitar setengah hektare. Ia mengikuti program Pertagas OKA bernama Marta Tani Mandiri. Di atas lahan itu, ia menanam berbagai jenis sayuran. Mulai dari cabai, terong, tomat, kacang panjang, hingga timun.
Dari beragam tanaman itu, tomat menjadi komoditas yang paling menjanjikan. Dalam satu siklus, hasil panennya pernah mencapai sekitar 2,5 ton. Tanaman ini relatif cepat menghasilkan. Dalam waktu sekitar 45 hingga 65 hari, tomat sudah bisa dipanen. “Tomat yang paling menjanjikan, kalau menurut saya sekarang ini. Karena nilai jual lagi bagus-bagusnya,” kata pria penggemar olahraga badminton ini.
Hasil panen yang terus meningkat membuka peluang ekonomi baru bagi Epen. Ia mengaku pernah memperoleh penghasilan puluhan juta rupiah dari satu siklus panen. Terutama ketika pertumbuhan tanaman optimal dan harga pasar sedang bagus.
Dengan harga jual tomat yang pernah berada di kisaran Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram, panen sekitar 2,5 ton berpotensi menghasilkan omzet kotor Rp 30 juta hingga Rp 37,5 juta. “Tapi, angka tersebut bergantung pada volume panen yang terjual dan harga jual saat itu,” katanya.
Bak ketiban durian runtuh, pada 2024 ia menikmati hasil kebunnya. Dari hasil tersebut, ia bisa membeli sepeda motor Honda PCX baru secara cash. Bagi Epen yang sebelumnya bertahun-tahun bekerja di proyek dan pertambangan, hasil itu menjadi bukti bahwa pertanian bisa memberikan penghidupan yang layak. Ia mengaku berhasil membuat sang istri tercinta, Titik Nurwahyuni, sumringah. Hasil pertaniannya mampu mengubah kondisi keuangan keluarga. “Awal berhenti kerja dulu, kondisi uang pas-pasan. Sekarang, Alhamdulillah wajah istri senyum terus kalau habis panen. Jadi tambah cantik,” kata Epen, berkelakar.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




