
Tradisi, kerajinan, musik, hingga olahraga adat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Desa Sungai Bawang, Kalimantan Timur. Di tengah arus modernisasi, kekayaan budaya Dayak Kenyah Lepoq Jalan di desa ini terus dijaga sekaligus dikembangkan sebagai potensi wisata berbasis masyarakat. Potensi tersebut menjadi salah satu perhatian Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mendorong pelestarian budaya sekaligus pengembangan destinasi wisata berbasis kearifan lokal.
Lantunan musik tradisional Dayak terdengar syahdu, mengalun meresap ke telinga. Irama demi irama mengiringi setiap gerakan tari. Kompak menyatu dengan hentakan kaki dan ayunan tubuh para penari yang enerjik. Penari pria, ada Mandau di tangan kanan. Tameng khas Dayak di tangan kiri. Rico (23) bergerak enerjik mengikuti irama musik. Sesekali ia dan rekannya berteriak memekikkan suaranya. Suara itu sebagai tanda semangat, keberanian, dan luapan kegemberiaan. Menghentakkan kaki dan mengayunkan tubuh bersama teman-temannya. Di tengah kemeriahan Mecaq Undat, ia membawakan tarian adat Dayak yang sudah akrab dengannya sejak kecil.
Desa Sungai Bawang memiliki karakter budaya yang kuat. Mayoritas penduduknya merupakan Dayak Kenyah Lepoq Jalan, keturunan ketiga sejak migrasi dari Apo Kayan pada 1970-an.

Berbagai tradisi lokal masih tumbuh dan melibatkan masyarakat lintas usia serta gender. Mulai dari kerajinan, kuliner, permainan tradisional, musik, tari, hingga cara bercocok tanam yang diwariskan turun-temurun.
Pada 27 September 2026 lalu, Desa Sungai Bawang menggelar pesta adat Mecaq Undat. Suasananya begitu meriah. Ribuan orang hadir. Desa ini terletak satu jam dari Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Secara teritorial, desa ini masuk di Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kepala Desa Sungai Bawang, Martinus mengatakan, Mecaq Undat merupakan pesta adat dan upacara syukur atas hasil panen padi yang dirayakan turun-temurun oleh masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan. Rangkaian acara Mecaq Undat di Desa Budaya Sungai Bawang, Kutai Kartanegara, diisi dengan penyambutan tamu secara adat menggunakan perahu Alut Adang, pemukulan gong sebagai tanda pembukaan, serta prosesi menumbuk beras menjadi tepung untuk diolah menjadi Undat. Perayaan juga dimeriahkan pertunjukan tari tradisional Dayak Kenyah, seperti Datun Julut, Nyelama Sakai, dan Hudoq, serta berbagai permainan tradisional, di antaranya lomba menyumpit. “Seluruh rangkaian kegiatan ini momentum syukur atas hasil panen sekaligus mempererat kebersamaan dan melestarikan adat budaya leluhur,” ujar Martinus.
Di antara acara itu, ada penampilan tari tradisional Dayak yang memukau. Rico menjadi salah satu generasi muda yang memilih menjaga budaya.
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan anak muda masa kini yang lebih asyik layar ponsel ketimbang di panggung kesenian, Rico tetap menyisihkan waktu untuk menari. Baginya, tarian tradisional bukan sekadar pertunjukan seni.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




