Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Detail Kasus Pembunuhan Bumi Mas: Korban Gagal Menikah, Dibunuh 2 Teman Karena Tak Mau Berikan Uang 500 Ribu Rupiah

miminradar-Radar Banjarmasin • 2020-11-12 09:43:51
SUNGGUH TEGA: Herman (berdiri) dan Jailani (duduk) ketika dihadirkan di depan Mapolsek Banjarmasin Selatan, kemarin (11/11) sore. | FOTO: MAULANA/RADAR BANJARMASIN
SUNGGUH TEGA: Herman (berdiri) dan Jailani (duduk) ketika dihadirkan di depan Mapolsek Banjarmasin Selatan, kemarin (11/11) sore. | FOTO: MAULANA/RADAR BANJARMASIN

BANJARMASIN - Pemuda 19 tahun asal Kabupaten Kotabaru ini ditemukan tewas, Selasa (10/11) sekitar jam 8 malam. Di rumah kontrakan di Jalan Bumi Mas Gang Adi Patra RT 07.

Namanya adalah Muhammad Sapi'i, warga Pasar Selasa Geronggang, Kecamatan Kelumpang Tengah, Kotabaru.

Ketika ditemukan, jasad itu tengkurap di samping kasur. Darah berceceran di tempat tidur. Gawainya tergeletak di lantai. Ditemukan pula gagang dan sarung senjata tajam.

Ada empat mata luka di tubuhnya. Paling parah di dada.

Lima jam kemudian, kasus ini terungkap. Pembunuhnya ada dua orang, sama-sama asal Kabupaten Tapin.

Yaitu Jailani, 30 tahun, warga Jalan Pandulangan RT 03 Kecamatan Tambarangan dan Herman, 30 tahun, warga Desa Andika RT 03 Kecamatan Tapin Tengah.

Ternyata dipicu masalah uang. Salah seorang pelaku pernah memintai Rp500 ribu, tapi korban menolak memberi.

Pada malam yang nahas itu, ketiganya berangkat bareng menuju tempat kerja.

"Mereka baru berkenalan beberapa hari yang lalu. Dikenalkan teman korban yang juga tinggal di kontrakan itu," kata Kapolsek Banjarmasin Selatan, Kompol Idit Aditya, kemarin (11/11) sore.

"Pelaku diringkus tak jauh dari kontrakan. Kami temukan dengan gelagat mencurigakan. Kami dekati, mereka berusaha melawan. Karena membahayakan dan mengabaikan tembakan peringatan, terpaksa dilumpuhkan," tambahnya.

Perburuan pelaku dibantu Resmob Polda Kalsel. Mereka dijerat dengan Pasal 338 jo 351 Ayat 3 KUHP. "Ancamannya 15 tahun penjara," sebutnya.

Ketika dihadirkan ke depan awak media, keduanya berjalan dengan terpincang-pincang. Herman mendapat timah panas di kaki kanan, sedangkan Jailani di sebelah kiri.

Ketika ditanya, malah saling membantah. Herman mengaku hanya memukul, tidak menusuk. Begitu pula Jailani, dia mengaku hanya sempat memukul.

"Saya tersinggung. Ketika meminta uang, malah dikata-katai yang tidak enak," kata Jailani. "Katanya tak punya duit. Tapi sambil menimpal, katanya kamu mau apa," tambahnya.

Jailani mengaku mengambil sebilah kayu, dipukulkan ke badan korban. Sedangkan Herman ikut menebaskan mandau. "Senjata memang ada di rumah itu. Enggak tahu juga milik siapa," timpal Herman.

Peristiwa kejahatan itu sempat terlihat mata tetangga. Ketika dipergoki, mereka malah mengancam saksi.

"Kami bingung mau kabur kemana. Kami ditangkap polisi 100 meter dari rumah kontrakan. Semua orang sudah pada geger," lanjutnya.

Ketiganya memang baru berkawan selama tiga hari terakhir. Sebilah mandau menjadi barang bukti. 

 

Gagal Menikahi Kekasih

Suara tangis terdengar di kamar pemulasaran jenazah Rumah Sakit Ulin. Di sana, ada orang tua dan pacar Muhammad Sapi'i.

Namanya Asyifa, 17 tahun. Dia terus menangis. "Baru sore itu bertemu. Kami jarang bersama, tapi kemarin seharian kami jalan-jalan," kisah kekasih korban.

Mereka berkeliling kota. Siswi SMK itu sempat menemani korban cukur rambut di kawasan Belitung.

"Kami baru pacaran empat bulan. Tapi keluarga kami sudah saling kenal. Bahkan, sepulang dari Kotabaru, ia berjanji akan menikahi saya," tambahnya.

Menurutnya, Sapi'i adalah pemuda yang sopan. Tak seperti pemuda zaman sekarang yang suka ngomong kasar.

"Setahu saya tak memiliki musuh. Orangnya tidak banyak bicara. Tapi ia sempat menceritakan soal temannya yang mau meminta uang itu. Katanya memang tidak punya uang," tambahnya.

Ibu Asyifa, Ayudia juga menyebut korban adalah anak yang baik. "Sudah saya anggap anak sendiri. Rasanya tak percaya. Karena barusan bertemu," ujarnya.

"Dia mau saja dititipi selada pas di Belitung. Yang membuat terharu, dia mau saja membelikan pesanan saya, baru balik lagi ke tempat potong rambut," tambah perempuan 34 tahun itu.

Ayudia juga mengetahui keinginan korban untuk menyunting putrinya. "Semoga ibadahnya diterima dan dosanya diampuni," tukasnya.

Kedua kakak korban, Misna dan Rayhani menuntut hukuman setimpal untuk kedua pelaku. "Kami meminta aparat membalasnya," tegasnya.

Di Banjarmasin, Sapi'i tinggal ngontrak sendirian. Merantau ke Banjarmasin untuk sekolah. Sempat mondok di pesantren, tapi tak lulus. Rencana berikutnya adalah mengambil Paket C.

"Kami sebenarnya tinggal di Pasar Lama. Tapi ia ingin tinggal ngontrak sendiri. Kami tiga bersaudara, dia paling bungsu," kata Misna.

Jasad korban kemudian dibawa menuju Kotabaru untuk dimakamkan. (lan/fud/ema)

Editor : miminradar-Radar Banjarmasin
#Kriminal Pembunuhan