Kartini Muda di Tubuh Polres Kukar; Ipda Fabiola Umaida dan Kegigihannya Mewujudkan Emansipasi Wanita

21 APRIL sudah terpatri di kehidupan masyarakat Indonesia sebagai Hari Kartini. Sosok perempuan bernama lengkap Raden Ajeng Kartini ini sudah hidup di semua perempuan Indonesia karena gagasan-gagasannya. Tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan membuka jalan dan merubah cara pandang terhadap perempuan di seluruh penjuru Indonesia.
Karena gagasannya ini, Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah dan hari lahirnya menjadi peringatan nasional. Yang hari ini bukan sekedar peringatan simbolik, melainkan penanda lahirnya kesadaran bahwa perempuan berhak atas kesempatan yang sama. Gagasan Kartini terus hidup di seluruh perempuan melawan arus ketimpangan, diskriminasi, stereotip, dan tekanan budaya patriarki.
PROKAL.CO, TENGGARONG - Semangat Kartini juga hidup di tubuh Kepolisian Resor (Polres) Kutai Kartanegara (Kukar) pada sebuah perwira muda bernama Ipda Fabiola Umaida. Wanita berusia 23 tahun ini berasal dari Lampung, namun per tahun 2024 kemarin telah mengabdi sebagai utusan Polri di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Mengabdi di tanah rantauan, perkenalan Fabiola di Bumi Etam sudah dimulai sejak ia masih menjadi taruni. Pada Latsitarda Nusantara XLIV/2024 yang dilaksanakan pada tahun 2024, Fabiola menjadi satu dari ribuan taruna Akmil, Akpol, maupun IPDN yang mengabdi di Kaltim. Fabiola sendiri menunaikan tugasnya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang juga menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kami sudah mengabdi di Kaltim ini sejak tahun 2024, dan kebetulan dari masa taruna,” cerita Fabiola kepada Prokal.co, Selasa (21/4/2026).
Wanita kelahiran 23 Mei 2002 ini sangat terkenal di dunia maya. Paras cantik nan tomboi menjadi daya tarik utama Fabiola, bahkan membuat ia memiliki hingga 200 ribu lebih pengikut di platform Instagram. Di balik pesona tomboi Fabiola, terdapat kegigihan kuat serta jiwa sosial tinggi.
Lahir sebagai bungsu dari tiga bersaudari, Fabiola menjadi satu-satunya anggota Polri di keluarganya. Besar dari ayah pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan ibu yang fokus mengurus rumah tangga, Fabiola memiliki cita-cita mulia. Yakni menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama khalayak.
“Sejak dulu saya memang bercita-cita menjadi polisi. Saya merasa profesi ini sesuai dengan passion saya, karena saya senang berinteraksi dengan masyarakat dan ingin bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Profesi sebagai aparat penegak hukum dinilai sangat tepat dengan minat Fabiola yang tumbuh sejak kecil. Sebagai Polri, Fabiola menjunjung tinggi tugas melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Minat ini tumbuh dari kebiasaan lamanya, berinteraksi serta bergaul dengan banyak orang.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




