67 Karhutla Bakar 915,68 Hektare Lahan Kukar, Sangasanga Terparah

PROKAL.CO, TENGGARONG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kutai Kartanegara (Kukar) sepanjang Agustus 2026 telah membakar sekitar 915,68 hektare lahan. Hingga Rabu (26/8/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar mencatat 67 kejadian karhutla di sejumlah kecamatan.
Sangasanga menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, mencapai 340 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 304 hektare berada di Kelurahan Pendingin yang hingga kini menjadi salah satu titik kebakaran dengan durasi penanganan terlama.
Pembina Utama Madya BPBD Kukar, Sunggono, mengatakan pemerintah sebenarnya telah melakukan mitigasi jauh sebelum kejadian karhutla meningkat. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi dampak kemarau dan cuaca ekstrem yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Salah satunya melalui surat edaran Bupati Kukar yang diterbitkan sekitar Juni lalu. Surat tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan perangkat daerah terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Mitigasi juga tidak hanya diarahkan pada potensi karhutla. Pemerintah turut mengantisipasi dampak kekeringan, terutama pada sektor pertanian dengan memasok air ke persawahan masyarakat yang terdampak.
“Di antara ukurannya adalah bahwa beberapa persawahan masyarakat kita yang selama ini kekeringan bisa kita support airnya, bisa kita penuhi kebutuhannya sehingga ancaman gagal panen itu bisa kita hindari,” ungkap Sunggono.
Seiring meningkatnya kejadian karhutla, pola penanganan juga diperkuat. Beberapa hari sebelum rapat koordinasi tingkat kabupaten, Sunggono telah memimpin pertemuan bersama para camat dari wilayah yang terdampak untuk memastikan pola gerak penanganan di lapangan berjalan seragam.
Dari 20 kecamatan di Kukar, sebagian besar telah terdampak karhutla. Berdasarkan data BPBD, hanya sekitar lima kecamatan yang belum terdeteksi memiliki hotspot berdasarkan data BMKG.
Namun, Sunggono mengingatkan data hotspot satelit tidak selalu menggambarkan kondisi kebakaran secara langsung di lapangan. Titik panas dapat berubah mengikuti kondisi suhu, terutama ketika udara mulai memanas pada siang hari.
“Kalau pagi, hotspot-nya nggak ada, hijau, cuma bagus. Semakin siang, semakin udara memanas, kemudian kecenderungannya hotspot-nya sudah muncul,” jelasnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




