Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ogoh-Ogoh Warnai Malam Ramadan 2026 di Tenggarong, Simbol Harmoni dan Toleransi di Kota Raja

Elmo Satria Nugraha • 2026-03-18 21:58:26

Pawai ogoh-ogoh saat melewati Jalan Stadion (Elmo/Prokal.co)
Pawai ogoh-ogoh saat melewati Jalan Stadion (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG – Denting gamelan dan sorak warga berpadu di sudut Kelurahan Loa Ipuh, Rabu (18/3/2026) malam. Di tengah suasana Ramadan, ratusan orang tumpah ruah mengikuti dan menyaksikan pawai ogoh-ogoh—tradisi umat Hindu yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Bukan sekadar arak-arakan budaya, kegiatan ini menjadi potret nyata harmoni kehidupan beragama di Kutai Kartanegara (Kukar), khususnya di Tenggarong yang dikenal sebagai Kota Raja. Warga lintas latar belakang terlihat antusias menyaksikan jalannya pawai, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kukar, I Nyoman Surada, menjelaskan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari rangkaian Hari Raya Nyepi yang telah dimulai sejak sehari sebelumnya.

“Rangkaian Nyepi sudah dimulai dengan Melasti. Pagi tadi kami melaksanakan Tawur Kesanga, dan malam ini dilanjutkan dengan pawai ogoh-ogoh sebagai tradisi umat Hindu,” ujarnya.

Ia menyebut, pawai dimulai dari Wantilan Pura Payogan Agung Kutai di Jalan Gunung Sedayu, kemudian melintasi Jalan Sangkuriang I, Jalan Stadion Rondong Demang, Jalan Selendreng, Jalan Mayjen Panjaitan, hingga Jalan Loa Ipuh, sebelum kembali ke pura.

“Rutenya kurang lebih tiga sampai lima kilometer. Kami berharap masyarakat bisa turut menyaksikan dan meramaikan kegiatan ini,” katanya.

Sekitar 100 umat Hindu terlibat langsung dalam pawai tersebut. Namun, dengan partisipasi warga sekitar, jumlahnya diperkirakan mencapai 150 hingga 200 orang.

Menurut Nyoman, ogoh-ogoh yang diarak bukan sekadar karya seni, melainkan memiliki makna filosofis yang kuat. Tradisi ini berakar dari ritual Tawur Kesanga yang bertujuan menjaga keseimbangan alam.

“Ogoh-ogoh melambangkan sifat-sifat negatif seperti keserakahan dan ketamakan manusia. Karena itu bentuknya dibuat menyeramkan, sebagai simbol untuk mengusir hal-hal buruk,” jelasnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan pawai di bulan Ramadan tetap memperhatikan nilai toleransi antarumat beragama. Pihaknya berupaya menjaga suasana tetap kondusif dan menghormati umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa.

“Kami sangat menghargai Ramadan. Kegiatan ini murni tradisi dan juga untuk menghibur masyarakat, dengan tetap menjaga toleransi,” tegasnya.

Tradisi pawai ogoh-ogoh sendiri rutin digelar setiap tahun, tidak hanya sebagai bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga menjadi hiburan yang dinantikan masyarakat.

Setelah rangkaian ini, umat Hindu akan melaksanakan Hari Raya Nyepi yang identik dengan keheningan sebagai momen refleksi diri dan penyucian alam. (moe)

Editor : Indra Zakaria