Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hubungan Sembunyi-Sembunyi dan Risiko Mental: Psikolog Ungkap Pemicu di Balik Kasus Mutilasi Madiun

R
Penulis: Redaksi Prokal❯
Tersangka diamankan.
Tersangka diamankan.

Advertisement

PROKAL.CO- Tragedi berdarah yang menimpa Dini Hardiyanti (30) dan putri kecilnya, AGF (4), di Kota Madiun menyibak sisi kelam dari dinamika hubungan rahasia dan tekanan hidup yang tak tersalurkan. Aksi keji yang dilakukan oleh suami siri Dini, Dwi Bagus Martono (DBM), tidak hanya mengejutkan publik lewat cara-cara ekstrem dalam menghilangkan jejak, tetapi juga membuka ruang diskusi mendalam mengenai dampak psikologis di balik pernikahan diam-diam.

Dari sudut pandang psikologi kriminal, keputusan untuk menjalani pernikahan siri atau hubungan rahasia kerap membawa beban ganda yang tak kasatmata. Psikolog Universitas Paramadina, Muhammad Iqbal, menuturkan bahwa menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi memicu kecemasan dan ketakutan konstan akibat konsekuensi sosial maupun ekonomi yang harus ditanggung sendirian.

"Menikah diam-diam juga menimbulkan tekanan tersendiri baik secara psikologis maupun ekonomi karena beban hidup yang bertambah karena harus membiayai dua 'dapur'," ujar Iqbal. Menurutnya, seseorang yang memikul dua bahtera rumah tangga sekaligus sering kali dihadapkan pada tekanan finansial yang melipat, di mana tuntutan ekonomi dapat mengikis ketahanan emosional seseorang hingga berada di titik nadir.

Advertisement

Selain persoalan rumah tangga, Iqbal menilai dugaan masalah cicilan, pinjaman online, hingga judi online juga perlu ditelusuri sebagai faktor penekan hidup, meski hal itu masih harus dibuktikan dalam penyidikan. Dalam psikologi kriminal, konflik dan tekanan memang dapat meningkatkan risiko perilaku menyimpang, namun respons seseorang sangat bergantung pada kontrol diri dan nilai moralnya. Karena itu, pertengkaran hebat yang dipicu rasa cemburu perlu dilihat secara komprehensif lewat pemeriksaan psikologi forensik untuk membongkar motif sebenarnya.

Iqbal juga mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menyimpulkan kekejaman pelaku sebagai bukti kepribadian sadis. Tindakan memutilasi dan menghancurkan jasad korban bisa saja merupakan bentuk respons panik untuk melenyapkan barang bukti.

Rangkaian peristiwa tragis ini sendiri bermula dari perselisihan di sebuah penginapan yang berujung pada aksi pembunuhan berantai. Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jawa Timur, AKBP Arbaridi Jumhur, menjelaskan bagaimana pelaku mengeksekusi kedua korban di tempat berbeda.

Advertisement

"Jadi, dilakukan oleh suami sirinya, karena pertengkaran di sebuah hotel di wilayah Madiun Kota, terus dibunuh dengan cara mencekik, dibawa keluar hotel, dan anaknya sendiri pun diperlakukan yang sama tapi beda tempat di dalam mobil," kata Jumhur.

Penyidikan mendalam yang tengah dilakukan oleh Ditreskrimum Polda Jawa Timur melalui pemeriksaan psikologi forensik kini menjadi krusial untuk mengurai benang kusut dalam peristiwa ini. Mengungkap karakteristik kepribadian pelaku dan motif utamanya akan memberikan gambaran utuh bahwa di balik sebuah tindak kejahatan ekstrem, selalu ada akumulasi konflik terpendam serta ketidakmampuan mengelola beban hidup yang berujung pada bencana kemanusiaan. (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : jawapos.com
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer