MADINAH — Di balik rimbunnya perkebunan kurma yang menghiasi tanah suci Madinah, tersimpan sebuah narasi perjuangan iman yang luar biasa. Sebuah lokasi yang hingga kini dikenal sebagai "Kebun Salman Al-Farsi" menjadi saksi bisu kemerdekaan seorang pencari kebenaran melalui sentuhan tangan langsung Rasulullah ﷺ.
Kisah ini bermula saat Salman Al-Farsi, seorang pengembara lintas benua yang mencari agama hakiki, akhirnya tiba di Madinah. Setelah mengenali tanda-tanda kenabian, Salman segera memeluk Islam. Namun, statusnya sebagai budak menjadi penghalang besar bagi pengabdiannya.
Pemilik Salman saat itu memberikan syarat pembebasan yang hampir mustahil untuk dipenuhi oleh seorang budak: menanam 300 pohon kurma dan membayar tebusan sebesar 40 ons emas.
Sentuhan Tangan Sang Nabi
Mendengar kesulitan tersebut, Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk membantu mengumpulkan bibit pohon. Namun, Nabi ﷺ memberikan instruksi khusus yang menggetarkan hati:
“Bawa bibit-bibit itu kepadaku agar aku sendiri yang menanamnya dengan tanganku.” Rasulullah ﷺ turun langsung ke lahan, menanam bibit-bibit tersebut satu per satu. Atas izin Allah, sebuah keajaiban terjadi; seluruh pohon tersebut berakar dan tumbuh seketika. Hanya ada satu pohon yang sempat layu karena ditanam oleh orang lain, namun setelah ditanam ulang oleh tangan Nabi ﷺ, pohon tersebut tumbuh subur menyusul yang lainnya.
Tantangan tidak berhenti di situ. Salman masih harus melunasi tebusan emas. Rasulullah ﷺ kemudian memberikan sekeping emas kecil kepada Salman. Meski secara kasat mata beratnya jauh dari 40 ons, namun saat diletakkan di atas timbangan, kepingan tersebut secara ajaib memiliki bobot yang tepat sesuai syarat yang diminta sang majikan.
Kombinasi antara kerja keras para sahabat dan mukjizat sang Nabi akhirnya mematahkan rantai perbudakan Salman Al-Farsi. Kini, nama kebun tersebut abadi dalam ingatan umat Muslim dunia sebagai simbol bahwa dalam setiap kesulitan iman, selalu ada jalan keluar yang tak terduga.(*)
Editor : Indra Zakaria