Kementan dan Komisi IV DPR RI Perkuat Ketahanan Pangan Nasional di Tengah Dinamika Global dan Perubahan Iklim

PROKAL.CO, JAKARTA-Kementerian Pertanian (Kementan) RI bersama Komisi IV DPR RI terus memperkuat sinergi dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global, krisis energi, serta dampak perubahan iklim.
Upaya ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan pangan tetap aman, stabil, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan Indonesia berhasil menunjukkan kinerja positif sektor pangan melalui pencapaian swasembada dalam waktu relatif singkat.
Hal ini merupakan hasil arahan Presiden, dukungan Komisi IV DPR RI, serta kerja keras petani di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Potensi Membahayakan, Warga Desa Loa Kulu Kota Gotong Royong Perbaiki Jalan Raya Berstatus Nasional
“Melalui arahan Bapak Presiden, dukungan Komisi IV, dan kerja keras seluruh petani, Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan dalam satu tahun. Produksi beras meningkat 4,07 juta ton sesuai data BPS atau 13,29 persen,” ujar Menteri Pertanian pada Rapat Kerja Komisi IV DPR RI di Senayan, Selasa (7/4/2026).
Ia menambahkan, cadangan beras nasional (CBN) per 7 April 2026 tercatat mencapai 4,6 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Dengan capaian tersebut, kondisi stok beras nasional dipastikan aman untuk memenuhi kebutuhan 10–11 bulan ke depan, meskipun terdapat potensi gangguan rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah, serta prediksi El Nino dalam enam bulan ke depan.
Selain beras, ketersediaan pangan strategis lainnya seperti bawang merah, bawang putih, cabai, daging sapi, daging kerbau, daging ayam, telur ayam, serta gula pasir juga dalam kondisi cukup.
Dalam menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya potensi kekeringan pada musim kemarau tahun ini, Kementerian Pertanian telah menginstruksikan langkah-langkah strategis kepada seluruh gubernur sejak 9 Maret 2026.
Baca Juga: Kontroversi Pokir Kaltim: Akademisi Unmul Tantang DPRD Gunakan Hak Interpelasi, Emangnya Berani?
Langkah tersebut meliputi pemetaan wilayah rawan kekeringan berbasis early warning system, optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, serta pemanfaatan pompanisasi dan perpipaan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




