JAKARTA- Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung, yang lebih dikenal dengan nama Whoosh, kini tengah dibayangi awan mendung setelah muncul indikasi kerugian jumbo yang mencapai angka lebih dari Rp 4 triliun. Beban finansial yang cukup fantastis ini harus ditanggung oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) selaku pemegang saham mayoritas sebesar 60 persen di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Situasi ini pun memicu reaksi keras dari kalangan pengamat ekonomi yang mulai mempertanyakan efektivitas serta tata kelola proyek ambisius tersebut.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, secara terang-terangan memberikan sinyal merah terhadap kelangsungan proyek ini. Ia menilai bahwa Whoosh memerlukan evaluasi total mengingat periode pengembalian modal atau payback period diprediksi akan memakan waktu yang sangat lama, bahkan berpotensi menembus angka 100 tahun. Selain masalah jangka waktu pengembalian, Esther juga mengingatkan bahwa proyek pengadaan fisik sebesar ini secara inheren memiliki risiko kerawanan terhadap praktik korupsi yang perlu diwaspadai sejak dini.
Konsorsium PSBI sendiri merupakan gabungan dari deretan raksasa BUMN seperti PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, dan PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I). Untuk menjaga transparansi, Esther menyarankan langkah pengawasan yang cukup mendasar namun krusial, yakni dengan membandingkan kualitas hasil pekerjaan dengan harga pasar yang berlaku guna mendeteksi adanya potensi penyimpangan. Monitoring dan evaluasi yang konsisten dianggap sebagai kunci utama untuk menekan kerugian lebih lanjut, yang jika ditemukan kejanggalan, harus segera dibawa ke ranah hukum.
Kekhawatiran semakin mendalam saat melihat sisi pembiayaan, di mana terdapat kesenjangan yang sangat lebar antara tumpukan utang yang ditanggung pemerintah dengan realita penerimaan dari operasional harian. Dengan tingkat okupansi penumpang saat ini, perhitungan matematis menunjukkan bahwa pendapatan yang dihasilkan masih jauh dari kata cukup untuk menutupi modal dalam waktu singkat. Ketimpangan inilah yang akhirnya membuat Whoosh berada dalam posisi sulit, terjepit di antara kebanggaan teknologi dan realitas ekonomi yang membebani kas negara. (*)
Editor : Indra Zakaria