JAKARTA – Kabar terbaru datang dari penanganan medis Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, korban penyiraman air keras yang melibatkan oknum personel TNI. Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Jane Rosalina, menyatakan bahwa kondisi Andrie kini mulai stabil meski masih memerlukan perawatan intensif di High Care Unit (HCU) Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta.
"Kami beruntung kondisi Andrie sudah membaik dan sudah ditangani dengan sangat baik oleh pihak dokter maupun rumah sakit yang bertugas," ujar Jane dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/3).
Luka Bakar 20 Persen dan Trauma Kimia Mata
Berdasarkan diagnosa medis terbaru, Andrie mengalami luka bakar sekitar 20 persen di area tubuh akibat reaksi kimia cairan keras. Selain luka fisik, tantangan terbesar berada pada mata kanan yang mengalami trauma kimia derajat 3 pada fase akut. Kondisi ini sempat menyebabkan penurunan penglihatan dan kerusakan kornea di awal kejadian.
Tim medis multidisiplin RSCM telah mengambil langkah cepat melalui prosedur pembersihan jaringan rusak serta Transplantasi Membran Amnion (TMA) untuk melindungi permukaan mata dan mempercepat proses penyembuhan.
Tak hanya itu, pada Selasa (17/3) kemarin, Andrie menjalani prosedur pengangkatan jaringan kulit mati dan tindakan tanam kulit (skin graft) dengan prioritas utama pada bagian wajah. Namun, untuk area leher, dada, dan lengan kanan, tim bedah plastik rekonstruksi masih harus melakukan observasi lebih lanjut karena luka yang cukup dalam. "Tindakan operasi kemungkinan perlu dilakukan lebih dari satu kali," tambah Jane.
Mengingat sensitivitas kasus ini, pihak keluarga dan kuasa hukum melalui KontraS secara resmi melarang kunjungan dari pihak mana pun. Langkah ini diambil demi menjamin hak Andrie dalam mendapatkan pelayanan medis yang bermutu serta perlindungan keamanan sebagaimana diatur oleh undang-undang.
KontraS juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tim medis RSCM yang terdiri dari spesialis mata, bedah plastik rekonstruksi, hingga tim kegawatdaruratan yang bekerja secara komprehensif.
Sejalan dengan pemulihan korban, proses hukum di internal TNI terus bergulir. Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengonfirmasi telah menahan empat personel TNI yang diduga kuat terlibat dalam penyerangan tersebut.
Keempat tersangka, yang berinisial NDP, SL, BWH, dan ES, diketahui merupakan anggota aktif yang berdinas di Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis (Denma BAIS) TNI.
Komandan Puspom TNI, Mayor Jenderal TNI Yusri Nuryanto, menegaskan bahwa para pelaku sudah diamankan untuk tingkat penyidikan. Meski identitas pelaku telah terang, motif di balik penyiraman air keras ini masih didalami secara intensif oleh penyidik militer. "Kami masih mendalami apa motif dari empat terduga pelaku tadi," pungkas Yusri.(*)
Editor : Indra Zakaria