PROKAL.CO- Dugaan aksi intoleransi terkait pelaksanaan salat Idulfitri di Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Kabar yang viral pada Jumat ini bermula dari unggahan yang menyebut adanya pembubaran rencana salat Id di Masjid Jami’ul Khair oleh pemerintah desa setempat. Informasi tersebut mencuat setelah sebuah foto maklumat dengan narasi pembatalan dan intimidasi terhadap panitia serta khotib beredar luas, memicu reaksi cepat dari berbagai elemen masyarakat.
Menyikapi polemik yang berkembang, Angkatan Muda Muhammadiyah melalui Komando Kesiapsiagaan (Kokam) Kabupaten Sukoharjo langsung mendatangi Balai Desa Kedungwinong untuk melakukan klarifikasi atau tabayyun. Langkah ini diambil guna mendapatkan penjelasan langsung dari pihak pemerintah desa dan meredam spekulasi yang simpang siur di tengah publik. Pertemuan mediasi pun digelar dengan menghadirkan Kepala Desa Kedungwinong, Camat Nguter, serta jajaran kepolisian sektor setempat guna mencari titik terang atas permasalahan tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dalam forum mediasi, persoalan ini diduga berakar dari kebijakan pemerintah desa yang menginginkan pelaksanaan salat Id dipusatkan di satu lokasi, yakni lapangan utama desa. Kebijakan satu pintu tersebut dimaksudkan untuk menjaga kebersamaan masyarakat, namun dalam praktiknya justru dinilai sebagai bentuk pemaksaan kehendak yang membatasi kebebasan beribadah di lokasi lain. Pesan singkat yang beredar di grup warga juga menunjukkan adanya penegasan bahwa izin tidak diberikan untuk pelaksanaan salat di masjid tertentu, yang kemudian dianggap sebagai tindakan intoleransi oleh sebagian pihak.
Hingga saat ini, proses dialog masih terus berlangsung untuk mencapai kesepakatan final yang dapat mengakomodasi kepentingan seluruh jamaah. Pihak Kokam menegaskan bahwa kehadiran mereka adalah untuk memastikan hak beribadah masyarakat tetap terlindungi tanpa adanya intimidasi. Diharapkan hasil mediasi ini segera memberikan kejelasan resmi sehingga kekisruhan tidak meluas dan kerukunan antarwarga di Desa Kedungwinong tetap terjaga menjelang hari kemenangan. (*)
Editor : Indra Zakaria