Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kualitas Air Sungai Kandilo Menurun, DLH Paser Ingatkan Fungsinya Hanya Sebagai Air Baku

Redaksi Prokal • 2026-01-28 10:15:00
DLH Paser mengungkap penurunan Indeks Kualitas Air Sungai Kandilo dalam dua tahun terakhir. Kekeruhan sungai disebut bukan satu-satunya indikator pencemaran lingkungan.(FOTO:RANO/PASER POS)
DLH Paser mengungkap penurunan Indeks Kualitas Air Sungai Kandilo dalam dua tahun terakhir. Kekeruhan sungai disebut bukan satu-satunya indikator pencemaran lingkungan.(FOTO:RANO/PASER POS)

 

TANA PASER – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Paser memberikan penegasan penting terkait status Sungai Kandilo di tengah keluhan masyarakat mengenai meningkatnya kekeruhan air. Sungai tersebut ditegaskan sejak awal tidak diperuntukkan sebagai air konsumsi langsung, melainkan berfungsi sebagai air baku yang wajib melewati proses pengolahan ketat oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebelum didistribusikan ke warga.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Paser, Ariza Galih Rakasiwi, menjelaskan bahwa penurunan Indeks Kualitas Air (IKA) Sungai Kandilo yang kini berada di kisaran 53 persen dalam dua tahun terakhir dipengaruhi oleh banyak faktor akumulatif. Namun, Ariza mengingatkan bahwa kualitas air tidak bisa dinilai hanya dari kekeruhan visual. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 2025, terdapat delapan parameter utama yang digunakan secara nasional untuk menentukan skor kualitas air melalui sistem aplikasi kementerian.

Dalam tinjauan teknisnya, terdapat perbedaan indikator antara PDAM dan DLH. Jika PDAM berfokus pada tingkat kekeruhan atau Nephelometric Turbidity Unit (NTU) demi kepentingan pengolahan air bersih, DLH lebih menekankan pada Total Suspended Solid (TSS) atau jumlah padatan tersuspensi sebagai indikator pencemaran lingkungan. Tingginya kekeruhan air tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh parameter kualitas air berada dalam kondisi buruk, karena sering kali parameter lain masih memenuhi baku mutu yang ditetapkan.

Penurunan kualitas air ini juga sangat dipengaruhi oleh aktivitas manusia di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). DLH mencatat bahwa kegiatan pertanian dan perkebunan kelapa sawit di bantaran sungai, serta limpasan pupuk dan bahan kimia, menjadi kontributor utama pencemaran. Bahkan, meski air bisa terlihat jernih setelah diolah, kandungan zat kimia dari pupuk tetap menjadi ancaman yang masuk ke badan sungai. Faktor alam seperti musim hujan juga turut memperparah tingkat sedimentasi dan kekeruhan saat pengambilan sampel dilakukan.

Sebagai upaya perbaikan, DLH Paser kini mendorong penguatan konservasi melalui penanaman vegetasi di sepanjang sempadan sungai. Langkah ini dinilai krusial untuk menahan limpasan air dan sedimentasi secara alami. Selain itu, meski telah menerima bantuan alat pemantauan kualitas air berbasis daring dari kementerian, sistem tersebut saat ini masih dalam tahap uji coba karena tingkat akurasinya yang belum stabil. Dengan pemantauan rutin dua kali setahun dari hulu hingga hilir, diharapkan langkah-langkah pelestarian dapat lebih terarah untuk menjaga keberlangsungan Sungai Kandilo.(*)

Editor : Indra Zakaria