TANJUNG SELOR - Pengembangan budidaya tambak di Kalimantan Utara (Kaltara) cukup menjanjikan. Pasalnya, Provinsi Kaltara memiliki sejumlah wilayah atau area tambak. Bahkan seluruhnya dikelola secara tradisional.
Gubernur Kaltara Drs H Zainal Arifin Paliwang, S.H., M.Hum mengatakan, pengelolaan tambak di Kaltara dapat meningkatkan pendapatan pada hasil kelautan dan perikanan. Apalagi, jumlah tambak di Kaltara cukup banyak.
Pada bidang perikanan budidaya berdasarkan hasil pemetaan data tambak, luas tambak di Kaltara 129.000 hektare. Sementara data luas tambak yang aktif 15.000 hektare.
“Luasan itu, memiliki jumlah nelayan pembudidaya sebanyak 4.746 nelayan. Artinya baru termanfaatkan sebesar 20 hektare saja. Jika termanfaatkan semua, maka bisa dibayangkan Kaltara akan seperti apa nantinya,” jelas Gubernur, Senin (19/6).
Untuk produksi budidaya di tambak, seperti kepiting masih rendah yaitu 33 ton per tahun. Sehingga perlu dilakukan penelitian atau pengembangan lebih lanjut. Kemudian kebutuhan benur untuk menunjang budidaya di Kaltara per tahun mencapai 9 miliar, sementara yang dapat dihasilkan baru sekitar 20 persen.
Ini dapat terjadi karena tambak tradisional belum ada sentuhan teknologi. “Permintaan pasar yang tinggi terhadap udang windu, bandeng dan kepiting. Sedangkan permasalahan benur, hal ini terjadi karena belum adanya balai benih udang di Kaltara,” jelasnya.
Ke depan, Pemprov Kaltara akan berupaya melakukan sejumlah langkah guna meningkatkan produksi tambak di Kaltara. Bahkan perlu ada regulasi mengenai tambak tersebut. Sehingga ke depan, bisa meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari hasil tambak.
“Memang sejauh ini secara tradisional dikelola. Kita perlu sejumlah upaya dalam peningkatan produksinya. Serta upaya peningkatan PAD. ini juga harus dipikirkan ke depannya,” pungkasnya. (fai/uno)
Editor : izak-Indra Zakaria