TANJUNG SELOR - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi, yang rutin digelar Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri RI) secara daring, di Ruang Rapat Lantai 3 Kantor Gubernur Kaltara.
Dalam rapat koordinasi dipimpin langsung oleh Inspektur Jenderal (Irjen) Kemendagri, Komjen Pol Drs Tomsi Tohir Balaw,M.Si. Dalam penyampaian laporan inflasi minggu ke 4 bulan September 2023. Berdasarkan inflasi gabungan kota per provinsi, secara year on year (yoy), diketahui Provinsi Kaltara berada di posisi di tengah atau stabil 2.16 persen.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasari mengungkapkan, bahwa terdapat empat komoditas tertinggi penyumbang inflasi. Antara lain beras, gula pasir, cabe merah, dan daging ayam ras.
Amelia menjelaskan, penyebab kenaikan komoditas adalah beberapa factor. Seperti cuaca hujan kriteria rendah masih mendominasi di beberapa daerah. Lalu per 1 September 2023, Pemerintah kembali melakukan penyesuaian harga BBM non subsidi. Dengan menaikkan harga untuk jenis Pertamax, Pertamax Turbo, Delite dan Pertamina Dexlite.
Menerangkan juga terjadi Base effect atas kenaikan BBM September 2023 telah berakhir. Sehingga komoditas bensin tidak lagi memberikan inflasi secara year to year, secara month to month. Tapi masih bisa dilihat dan tentunya, diharapkan bulan depan effect atau dampak dari BBM secara month to month tidak terlalu signifikan.
Dari 297 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan beras, terdapat 178 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan.
“Jadi beberapa komoditas yang menjadi perhatian kita minggu lalu. Saat ini mengalami penurunan harga yang cukup baik. Sekarang yang menjadi komoditas perhatian kita adalah beras, gula pasir dan cabe merah,” kata Amalia. (dkisptlhms)
Editor : uki-Berau Post