Banyak kerja Mulyadi menghasilkan hal-hal besar. Namun ia lebih memilih menggunakan ilmu padi. Dikalangan ulama, ia juga dikenal memiliki rekam jejak yang baik. Memiliki ilmu padi dibalut dengan sisi religius, Mulyadi menjadi calon kuat untuk bisa membawa Pontianak ke depan semakin maju. Untuk syarat perahu maju sebagai calon orang nomor satu, rasanya juga tidak sulit. Sebab dengan politisi dan partai kedekatan Mulyadi juga terjalin harmonis.
Politisi satu ini juga tak bisa dipandang remeh. Dia Bebby Nailufa, Ketua Partai Golkar yang mampu mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Pileg 2024.
Sekarang Golkar berhasil meraih enam kursi dan kembali duduk di kursi pimpinan. Keterpurukan Golkar di periode sebelumnya, yang tak mampu meraih satu fraksi di DPRD kini dibalikkan Bebby. Apa yang dilakukan Bebby bukan kerja mudah. Di kepartaian, ia membangun kekuatan hingga akar. Anak-anak muda sebagai regenerasi penerus partai beringin itu dirangkul Bebby. Kerja-kerja dengan cara anak muda dilakukan Golkar kini.
Alhasil kejayaan Golkar di Pileg kembali diraihnya. Di legsilatif Bebby juga asam garam. Hampir sepuluh tahun duduk sebagai wakil rakyat, ia banyak menjabat berbagai bidang komisi.
Mengetahui banyak persoalan Kota Pontianak karena menjadi mitra organisasi perangkat daerah. Begitu pula dalam perencangan raperda, Bebby pernah menjadi Ketua Baperda.
Nama Bebby santer maju sebagai calon wali kota. Bahkan ujaran itu langsung dikatakannya di hadapan awak media. Kekuatan Partai Golkar baru, dengan melakukan aksi-aksi meraih hati generasi z, tak ditutup kemungkinan bursa pencalonan Wali Kota Pontianak nanti terwakili kaum perempuan.
Calon lainnya adalah Bahasan. Pendamping Edi Kamtono ini sebelumnya, juga digadang akan kembali maju di Pilwako Pontianak.
Namun hingga saat ini belum ada sepatah katapun darinya untuk maju di bursa pemilihan pemimpin Pontianak.
Lalu Politisi Partai Amanat Nasional yang berhasil duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Kalbar, Zulfydar Zaidar Mochtar juga masuk dalam radar calon wali kota. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi. Politisi satu ini dikenal ramah dengan semua orang.
Dalam penyelesaian masalah, gaya Zulfydar terbiasa dengan melakukan tatap muka mendengarkan banyak masukan masyarakat. Setelah hasil aspirasi masyarakat itu ditampung. Barulah tindaklanjutinya. Dari ketokohan ia juga terkenal. Namun dalam syarat pengajuan sebagai cawako, jika benar ia akan maju maka kerjanya akan sedikit berat.
Sebab hasil Pileg 2024 PAN hanya mampu meraih dua kursi. Tak sampai satu fraksi. Mau tak mau dia harus mencari tujuh kursi tambahan sebagai syarat sembilan kursi dukungan untuk maju sebagai calon orang nomor satu di Pontianak.
Nama Dian Eka politisi Hanura juga masuk radar wali kota. Pontianak Post telah mewawancarainya. Namun untuk saat ini ia tak ada niat untuk maju dalam bursa cawako. “Saya mau fokus di DPRD saja. Apalagi ini baru selesai Pileg dan saya berhasil duduk di DPRD Provinsi Kalbar,” ujarnya.
Dua politisi lagi yang berhasil masuk radar adalah Firdaus Zarin dan Heri Kurdi. Berdiri di bendera partai Nasdem, patut ditunggu gebrakan mereka berdua. Namun dari informasi yang coba digali Pontianak Post, kedua calon tersebut belum menampakkan tanda untuk maju. Selain ke delapan nama itu, turut masuk dua nama lagi dalam bursa pemimpin Pontianak. Dia adalah Syarif Mahmud dan Agus Rianto. Sedangkan di kalangan pengusaha Tionghoa ada nama Sugioto.
Wahyu atau sering disapa Cundrik, warga Pontianak memandang, pencarian kepala daerah yang bakal memimpin Pontianak bukan hanya soal dikenal dan punya uang saja. Namun masyarakat mesti tahu apa visi misi yang bakal dibawa ketika ia mau maju sebagai pemimpin Pontianak.
“Pontianak kan barometernya Kalbar. Siapapun pemimpinnya mesti jelas visi misinya. Kalau saya pribadi melihat tiap calon dari rekam jejaknya,” ujarnya.
Apalagi melihat perkembangan zaman saat ini, turut berkolerasi dengan kemajuan Kota Pontianak. Ketika sebuah kota semakin maju juga menimbulkan banyak persoalan ditataran masyarakat. Untuk mencarikan solusi dari semua persoalan kota sekarang dibutuhkan calon pemimpin yang tepat. Siapapun itu, mesti bisa menjadi nahkoda membawa arah kemajuan Pontianak hingga lima tahun ke depan.(iza)