Jelang Ramadan, Satpol PP PPU Gencar Patroli Prostitusi, Awas yang Suka Main di Aplikasi

PROKAL.CO, PENAJAM-Jelang Ramadan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) meningkatkan intensitas patroli dan pengawasan untuk mencegah praktik prostitusi.
Fokus utama penelusuran adalah pada platform aplikasi dalam jaringan (daring), yang kerap disalahgunakan untuk aktivitas prostitusi di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), khususnya di Kecamatan Sepaku, PPU.
Salah satu aplikasi perpesanan menjadi salah satu sasaran utama karena sering digunakan oleh individu yang tidak bertanggung jawab untuk menawarkan jasa prostitusi.
“Kami memiliki tim khusus yang memantau aktivitas di salah satu aplikasi perpesanan. Jika ditemukan indikasi adanya praktik prostitusi, kami akan langsung menindaklanjuti,” tegasnya.
Selain itu, lanjut dia, Satpol PP PPU juga bekerja sama dengan pihak kepolisian dan instansi terkait lainnya untuk melakukan razia di tempat-tempat yang dicurigai menjadi lokasi prostitusi terselubung.
“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta menjaga ketertiban dan kesucian bulan Ramadan. Jika ada informasi terkait praktik prostitusi, segera laporkan kepada kami,” imbaunya.
Dengan langkah-langkah preventif dan represif yang dilakukan, Satpol PP PPU berharap dapat menciptakan suasana yang kondusif dan menjaga kesucian bulan Ramadan di wilayah IKN, dan wilayah lainnya di Kabupaten PPU.
Sebelumnya, pada Sabtu (22/2/205), Satpol PP PPU mengamankan dua orang pekerja seks komersial (PSK) di sebuah guest house di kawasan IKN di Kecamatan Sepaku, PPU.
Operasi ini dilakukan sebagai tindak lanjut dari laporan masyarakat Desa Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku, PPU, yang resah dengan keberadaan PSK di wilayah mereka.
Petugas Satpol PP bersama perangkat desa dan tokoh masyarakat setempat berhasil mengamankan dua wanita.
Kedua PSK itu berinisial RW (38) dan CIS (36). Mereka diamankan saat sedang menggunakan aplikasi online untuk bertransaksi.
Menurut pengakuan kedua PSK, mereka menyewa kamar seharga Rp 350.000 per hari dan melayani lebih dari tiga pelanggan.
Mereka juga mengaku bahwa sebagian besar pelanggan mereka diduga adalah pekerja buruh di proyek IKN. (far)
ARI ARIEF
ari.arief@kaltimpost.co.id
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




