Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Ironi di Balik Instruksi Efisiensi: Mobil Dinas Ketua DPRD Kaltim Lebih Mahal dari Mobil Presiden Prabowo

R
Toyota Land Cruiser 250 Prado 2.7 VX.
Toyota Land Cruiser 250 Prado 2.7 VX.

Advertisement

 
SAMARINDA – Kontras tajam terjadi antara semangat penghematan di level pusat dengan realita di daerah. Di saat Presiden Prabowo Subianto memilih menggunakan mobil dinas produksi dalam negeri (Maung Garuda) yang ditaksir seharga Rp1 miliar demi mendukung industri domestik dan efisiensi, Sekretariat DPRD Kalimantan Timur justru melangkah ke arah sebaliknya.

Pihak Sekretariat DPRD Kaltim terungkap melakukan pengadaan mobil dinas baru untuk sang Ketua, Hasanuddin Mas’ud, dengan harga yang fantastis: Rp3,099 miliar. Nilai ini tiga kali lipat lebih mahal dari estimasi harga kendaraan operasional orang nomor satu di republik ini.

Berdasarkan data dari laman sirup.lkpp.go.id, pengadaan ini masuk dalam APBD Perubahan Tahun Anggaran 2025 dengan total pagu mencapai Rp3,62 miliar. Paket tersebut tercatat sebagai Belanja Modal Alat Angkutan Kendaraan Dinas Bermotor Darat. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa unit yang telah dibeli pada Oktober 2025 adalah Toyota Land Cruiser 250 Prado 2.7 VX. Mobil mewah produksi Jepang ini ditebus dengan harga Rp3,099 miliar (termasuk PPN 12%) melalui penyedia CV Kana Surya Lestari.

Advertisement

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Biro Umum Sekretariat DPRD Kaltim, Hardiyanto, belum memberikan tanggapan terkait urgensi pembelian kendaraan mewah tersebut di tengah instruksi efisiensi anggaran negara.

Sorotan Tajam: Matinya Fungsi Pengawasan

Langkah ini memicu kritik pedas dari akademisi. Pengamat Hukum dari Universitas Mulawarman (Unmul), Herdiansyah Hamzah, menilai hal ini sebagai bukti nyata kegagalan fungsi check and balance di Kalimantan Timur. Kritik ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, publik juga dikejutkan dengan pengadaan mobil dinas Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, yang menyentuh angka Rp8,49 miliar. Herdiansyah menyoroti adanya kaitan erat antara eksekutif dan legislatif yang menghambat fungsi kontrol.

Advertisement

"Seharusnya kita punya check and balance system di DPRD, tetapi sayang sekali DPRD sendiri tidak berfungsi. Bukan hanya Gubernur yang diberi porsi mobil dinas Rp8,5 miliar, tetapi Ketua DPRD juga serupa," ujar Herdiansyah.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Castro ini mensinyalir bahwa hubungan kekeluargaan antara Gubernur dan Ketua DPRD Kaltim menjadi akar persoalan. "Problemnya ada irisan mendalam dalam konteks politik dinasti. Satu Gubernur, satu Ketua DPRD, yang kebetulan bersaudara. Inilah masalah dasar di mana sistem kontrol tidak bekerja sama sekali. Tidak ada yang bisa mengawasi," tegasnya. (*)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Target Pendapatan Terkoreksi Rp883 Miliar, KUA-PPAS Perubahan 2026 Sebesar Rp14,33 Triliun

Target Pendapatan Terkoreksi Rp883 Miliar, KUA-PPAS Perubahan 2026 Sebesar Rp14,33 Triliun

DPRD Kaltim dan Pemprov Kaltim menyepakati Rancangan Perubahan KUA-PPAS 2026 dengan pagu anggaran Rp 14,33 triliun dalam rapat paripurna, Sa

KPK Endus Anomali Penganggaran Kaltim, DPRD Minta Pembenahan Total Tata Kelola Pemerintahan

KPK Endus Anomali Penganggaran Kaltim, DPRD Minta Pembenahan Total Tata Kelola Pemerintahan

KPK Endus Anomali Penganggaran Kaltim, DPRD Minta Pembenahan Total Tata Kelola Pemerintahan SAMARINDA – Sinyal peringatan serius dari Komis

Anggaran Operasional Terjun Bebas ke Rp 100 Miliar, Ketua DPRD Kaltim Minta Gubernur 'Buka Mata'

Anggaran Operasional Terjun Bebas ke Rp 100 Miliar, Ketua DPRD Kaltim Minta Gubernur 'Buka Mata'

Anggaran Operasional Terjun Bebas ke Rp 100 Miliar, Ketua DPRD Kaltim Minta Gubernur 'Buka Mata'

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer