Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BPBD Samarinda Curigai Faktor Manusia dalam Karhutla, Temuan Patok Baru Jadi Perhatian

I
Kepala Pelaksana tugas (Plt) BPBD Kota Samarinda, Suwarso.
Kepala Pelaksana tugas (Plt) BPBD Kota Samarinda, Suwarso.

Advertisement

SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya meninggalkan lahan yang menghitam dan pepohonan yang rusak. Di sejumlah lokasi di Samarinda, kemunculan patok-patok baru setelah kebakaran turut menarik perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 

Temuan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan aktivitas manusia di balik peristiwa kebakaran lahan. Kepala Pelaksana tugas (Plt) BPBD Kota Samarinda, Suwarso, mengungkapkan karhutla  berpotensi dipicu berbagai faktor, baik alam maupun aktivitas manusia. 

Namun, berdasarkan pengamatannya di lapangan, Menurutnya faktor manusia diduga memiliki peran yang lebih dominan dalam sejumlah kejadian. “Faktor alam dan manusia. Tapi kalau dilihat dari kondisinya kayaknya ada yang lebih dominan faktor manusianya,” Ungkap Suwarso saat dihubungi melalui sambungan seluler. Minggu (25/10/2026).

Advertisement

Lebih lanjut, Suwarso menyebutkan patok-patok baru ditemukan di sejumlah kawasan setelah kebakaran terjadi. Bahkan petugas juga menjumpai pondok dan bendera di beberapa titik, termasuk wilayah Palaran dan Betapus. Keberadaan berbagai penanda tersebut menjadi perhatian karena ditemukan setelah lahan mengalami kebakaran. Meski demikian, BPBD belum dapat memastikan apakah patok, pondok, dan bendera tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa karhutla.

Selain itu, Suwarso juga menyoroti temuan lain seperti sejumlah pohon yang telah ditebang di salah satu lokasi. Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya rencana pemanfaatan lahan, termasuk kemungkinan untuk kegiatan perkebunan.

Kendati demikian, Suwarso belum memastikan dugaan tersebut sebagai penyebab kebakaran. BPBD juga belum menyimpulkan bahwa karhutla sengaja dilakukan untuk membuka atau menguasai lahan tertentu. Karena itu, keberadaan patok dan tanda-tanda aktivitas di lokasi kebakaran masih memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui keterkaitannya dengan penyebab kebakaran maupun kemungkinan pemanfaatan lahan setelah kejadian.

Advertisement

Untuk itu, Suwarso berharap penegakan hukum dapat memberikan efek jera bagi pihak-pihak yang terbukti terlibat. Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan bersama dalam menjaga kawasan rawan kebakaran. "Hingga penyebab kebakaran dan keterkaitan temuan di lapangan dapat dipastikan, dugaan mengenai aktivitas manusia di balik karhutla tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut," Tutup Suwarso. (adv/diskominfo/smd)

Advertisement
Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
ProkalIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Terparah, Indeks Standar Pencemaran Udara di Kabupaten Kutai Barat Berstatus Berbahaya

Terparah, Indeks Standar Pencemaran Udara di Kabupaten Kutai Barat Berstatus Berbahaya

Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menghadapi situasi darurat pencemaran udara imbas kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kabut Asap Masih Selimuti Sejumlah Kawasan di Kabupaten Kutai Barat, Jarak Pandang Terbatas   

Kabut Asap Masih Selimuti Sejumlah Kawasan di Kabupaten Kutai Barat, Jarak Pandang Terbatas   

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah daerah di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Seperti di Kubar.

Cegah Karhutla, Kemenhut Perkuat LPHD Tebangan Lembak

Cegah Karhutla, Kemenhut Perkuat LPHD Tebangan Lembak

Cegah Karhutla, Kemenhut Perkuat LPHD Tebangan Lembak

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer