Polemik dugaan kekerasan antar siswi di salah satu SMP di Kecamatan Sungai Kunjang, Samarinda, terus bergulir. Setelah video berdurasi 1 menit 15 detik viral di media sosial, keluarga salah satu korban mendesak agar dua siswi kembar yang terekam melakukan pemukulan diberi sanksi tegas oleh pihak sekolah.
Pernyataan dari pihak sekolah yang menyebut kasus telah selesai lewat mediasi memicu reaksi keras dari wali korban. Mereka menilai, mediasi yang dilakukan pada Rabu (21/5/2025) lalu hanya menyentuh persoalan olok-olok antarsiswa di grup WhatsApp, bukan kekerasan fisik yang terekam dalam video.
“Mediasi itu hanya untuk menyelesaikan masalah olok-olok antara tiga siswi dan siswi kembar. Tapi kekerasan di video itu perkara lain,” ujar RV, kakak dari siswi berinisial CS, saat dihubungi, Kamis (22/5/2025).
RV menegaskan bahwa adiknya menjadi korban pemukulan saat jam pulang sekolah, meski tidak terlibat dalam konflik utama. Menurutnya, CS hanya berniat melerai, namun justru ikut dianiaya.
“Di video itu, adik saya duduk di lantai bersama temannya. Dia dipukul dan ditendang tanpa perlawanan. Pelakunya dua siswi kembar itu. Adik saya malah ikut jadi korban karena mencoba melerai,” jelasnya dengan nada kesal.
RV juga menuding pihak sekolah berusaha menutupi fakta kekerasan dan cenderung berpihak pada pelaku.
“Soal saling olok memang sudah damai, saya maklumi. Tapi bagaimana dengan kekerasannya? Saya minta sekolah beri sanksi tegas. Adik saya memar, sementara yang memukul masih bisa tertawa,” tegasnya.
Terpisah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, NA, menyatakan bahwa mediasi sudah dilakukan dan dihadiri pihak kepolisian. Menurutnya, seluruh pihak menyatakan tidak ada tuntutan lebih lanjut.
“Kami sempat tanyakan, baik ke anak-anak maupun orang tua, semua bilang tidak ada tuntutan. Jadi kami anggap sudah damai,” ujarnya via telepon.
Terkait permintaan agar dua siswi kembar diberi sanksi, NA menegaskan bahwa seluruh siswi yang terlibat dalam insiden tersebut dipandang sebagai pelaku.
“Kalau mau diberi sanksi, ya semua. Tidak bisa hanya salah satu pihak. Dari awal mereka sudah tahu mereka juga salah. Di grup WhatsApp, mereka saling ejek dan melontarkan kata-kata kasar. Buktinya mereka sendiri yang tunjukkan,” pungkasnya.
Sebelumnya, video kekerasan tersebut tersebar di media sosial. Dalam video yang direkam Selasa (20/5/2025), terlihat dua siswi duduk di lantai dianiaya dua siswi lainnya. Seorang siswi lain yang berusaha melerai pun ikut menjadi korban pemukulan.
Pihak sekolah menggelar mediasi setelah video viral, namun dalam pernyataannya, pihak sekolah menyebut peristiwa tersebut sebagai perkelahian spontan, bukan tindakan perundungan. Hal inilah yang menambah kekecewaan keluarga korban, karena tindakan kekerasan dinilai tidak disikapi secara serius. (oke/beb/nha)
Editor : Indra Zakaria