Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Nyepi 1948 di Samarinda Usung Tema “Satu Bumi, Satu Keluarga”

Muhamad Yamin • 2026-03-17 11:26:11

Umat Hindu merayakan Nyepi di Samarinda.
Umat Hindu merayakan Nyepi di Samarinda.

PROKAL.CO, SAMARINDA - Umat Hindu di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, bersiap menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948. Tahun ini, perayaan mengusung tema Vasudhaiva Kutumbakam yang bermakna seluruh penghuni bumi merupakan satu keluarga besar.

Tema tersebut dinilai relevan di tengah dinamika pembangunan Samarinda sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Nilai kebersamaan dan harmoni lintas perbedaan menjadi pesan utama yang ingin ditegaskan dalam perayaan Nyepi tahun ini.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Samarinda, I Putu Suberata, mengatakan Nyepi bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan juga bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan global.

Nyepi di Samarinda.
Nyepi di Samarinda.

“Melalui Catur Brata Penyepian, saat umat menghentikan aktivitas dan perjalanan, itu menjadi ruang bagi bumi untuk beristirahat. Ini bentuk kontribusi kami dalam menjaga keberlanjutan alam,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Ia menjelaskan, filosofi Vasudhaiva Kutumbakam diterjemahkan dalam rangkaian ritual yang digelar di Pura Jagat Hita Karana Samarinda. Rangkaian tersebut menjadi simbol ajakan untuk menghapus sekat perbedaan dan memperkuat persaudaraan.

Adapun tahapan perayaan Nyepi diawali dengan upacara Melasti yang digelar di Sungai Mahakam. Ritual ini merupakan prosesi penyucian diri dan alam semesta, sebagai persiapan menyambut hari suci.

Selanjutnya, digelar Tawur Agung Kesanga yang dirangkai dengan pawai ogoh-ogoh pada Rabu (18/3). Upacara ini bertujuan menetralisir energi negatif serta menciptakan keseimbangan alam.

Umat Hindu Samarinda merayakan Nyepi.
Umat Hindu Samarinda merayakan Nyepi.

Puncak perayaan Nyepi jatuh pada Kamis (19/3), ditandai dengan pelaksanaan Catur Brata Penyepian selama 24 jam. Dalam momen ini, umat menjalankan empat pantangan, yakni tidak menyalakan api (amati geni), tidak bekerja (amati karya), tidak bepergian (amati lelungan), dan tidak menikmati hiburan (amati lelanguan).

Setelah itu, umat akan merayakan Ngembak Geni pada Jumat (20/3) sebagai momentum untuk saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan.

Ketua Panitia Nyepi Saka 1948, I Gusti Bagus Armayasa, menyebut seluruh rangkaian persiapan telah dilakukan sejak beberapa hari terakhir, mulai dari ritual awal hingga gotong royong menyiapkan sarana upacara.

“Rangkaian sudah berjalan dari tahap awal hingga Melasti hari ini, dan akan berlanjut ke Tawur Kesanga hingga pelaksanaan Nyepi,” katanya.

Panitia juga mengapresiasi masyarakat Samarinda yang selama ini menjaga toleransi antarumat beragama. Menurut mereka, Nyepi menjadi momentum refleksi bersama untuk menjaga kedamaian dan kelestarian lingkungan.

Sementara itu, tokoh umat Hindu Samarinda, I Made Subamia, menambahkan bahwa ritual Tawur Agung Kesanga memiliki makna penting dalam membersihkan energi negatif.

“Nyepi bukan hanya soal hening, tapi juga bentuk doa untuk kedamaian daerah, terutama di tengah perubahan Kalimantan Timur sebagai pusat pertumbuhan baru Indonesia,” ujarnya. (*)

Editor : Indra Zakaria