TURIN– ''Awal musim (Marco) Giampaolo seperti (Arrigo) Sacchi,'' sebut Direktur Teknik AC Milan Paolo Maldini, beberapa saat jelang kontra Torino di Stadio Olimpico Grande Torino, kemarin WIB (27/9). ''Dia (Giampaolo) mengalami hal yang sama. Dia punya ide tepat, tapi tak banyak menunjukkan hasil bagus,'' sambung Maldini, kepada Sky Sport Italia.
Tapi, begitu laga selesai, betapa satirnya ucapan Il Capitano, julukan Maldini, itu. Sebab, Milan kembali gagal menang dan tumbang 1-2 atas Torino hanya dalam waktu lima menit. Dua gol yang menjebol gawang Rossoneri, julukan Milan, terjadi menit ke-72 dan 76. Hanya penalti Krzysztof Piatek pada menit ke-18 pembeda Alessio Romagnoli dkk.
Bagi Giampaolo, kekalahan itu jadi rapor merah ketiganya sejak dia datang di Milanello, kamp latihan Milan. Itu yang tak terjadi pada lima laga pertama “Nabi dari Fusignano”, julukan Sacchi. Sebab, Sacchi hanya sekali menelan kekalahan dalam lima laga pertama sebagai pelatih Milan pada musim 1987 – 1988. Semua terjadi di Coppa Italia.
Bahkan, di Serie A pun Sacchi tetap lebih baik. Dalam lima giornata pertama, cuma satu kekalahan yang didapatkan Franco Baresi dkk. Hasilnya dua kali menang, dua kali imbang, dan sekali kalah. Bandingkan dengan Giampaolo yang mencatatkan cuma dua kali kemenangan dan tiga kali keok!
Makanya, Giampaolo sama sekali tidak gembira dengan ucapan Maldini tersebut. ''Anda (Maldini) membandingkan aku dengan Sacchi? Bagiku, itu sama dengan penghinaan,'' sebutnya dalam konferensi pers setelah laga, seperti yang dilansir laman Milan Live. Giampaolo benar, di Milan dia masih belum melakukan apa-apa.
Dia bukan pelatih yang datang ke Milan sebagai tim juara. Jika Sacchi sukses mengantar Parma sebagai scudetto Serie C1 1985 – 1986 sebelum pergi ke Milan dua musim setelah itu, di Sampdoria Giampaolo belum mencatatkan apapun selama tiga musim dari 2016. Begitu pula di sisi skuadnya.
Modal yang dimiliki allenatore 52 tahun itu pun jauh kalau dibandingkan Sacchi. Sukses Sacchi merengkuh scudetto saat musim pertamanya di Milan tersebut bermodalkan nama-nama hebat seperti Ruud Gullit, Marco van Basten, Roberto Donadoni, Baresi, dan termasuk Maldini. Giampaolo? Dia bahkan belum mampu menemukan komposisi terbaiknya.
Kekalahan kemarin mengingatkan ultimatum petinggi Milan, termasuk Maldini di dalam jajarannya. Setelah kekalahan atas Il Toro, julukan Torino, hanya mengalahkan Fiorentina akhir pekan ini (30/9) yang bisa menyelamatkan karir Giampaolo di Milan. Giampaolo juga tahu jika dia sedang terancam. ''Aku akan berusaha lebih baik,'' harapnya.
Sampai kapan? Terlebih sampai tadi malam WIB rumor pemecatannya juga makin santer terdengar. Media-media Italia bahkan sudah memunculkan satu nama. Bukan sosok yang asing, sebab calon yang digadang-gadang bakal menggantikan Giampaolo andai ditendang Milan juga pernah di ruang ganti Milan.
Gennaro Gattuso ternyata kembali dirindu. Kebetulan Rino, sapaan karib Gattuso, belum terikat dengan satu klub mana pun sejak dipecat Milan akhir musim lalu. ''Milan bakal memberi dia (Gattuso) kesempatan untuk kembali melatih Milan untuk kali kedua,'' klaim Corriere dello Sport.
Selain Milan, Gattuso juga dikaitkan dengan klub Serie A lainnya. Lazio dan Genoa juga diklaim tertarik untuk mendatangkan mantan gelandang Milan tersebut. Tetapi dengan romansa yang masih dimiliki Gattuso dan pemain Milan yang masih mengenalnya, jalan Gattuso pulang ke Milan terbuka lebar. (ren)
Editor : izak-Indra Zakaria