Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Merampas Panettone dari Pirlo

izak-Indra Zakaria • Senin, 2 November 2020 - 17:06 WIB
Aksi Ibra mencetak gol penentu kemenangan Milan.
Aksi Ibra mencetak gol penentu kemenangan Milan.

UDIEN– Akhir pekan lalu (31/10), allenatore Juventus Andrea Pirlo dinobatkan sebagai penerima Tapiro d’Oro atau Tapir Emas. Yakni, penghargaan satire dari Striscia la Notizia kepada selebriti atau olahragawan di Italia yang tengah mengalami periode buruk.

Dari enam laga awal Juve musim ini, Pirlo hanya mempersembahkan dua kemenangan. Meski hanya sekali kalah, tiga laga lainnya (yang di atas kertas semestinya bisa dimenangkan) berakhir seri. Itu menjadi start terburuk ketimbang empat allenatore Juve sebelumnya di musim debut.

Musim lalu, Maurizio Sarri mencatat 4 kali menang dan 2 kali seri. Massimiliano Allegri (2014–2015) malah menyapu bersih kemenangan. Sementara itu, Antonio Conte pada 2011–2012 mencatat 3 kali menang dan 3 kali seri. Luigi Delneri semusim sebelum Conte juga meraih hasil yang lebih baik dengan 4 kali menang, 1 kali seri, dan 1 kali kalah.

Memang, Pirlo yang notabene newbie tak bisa dibandingkan dengan Sarri, Allegri, Conte, maupun Delneri yang punya jam terbang lumayan saat kali pertama membesut Juve. Karena itu, meski sudah muncul skenario-skenario seandainya periode buruk Giorgio Chiellini dkk berlanjut (salah satunya merekrut kembali Allegri), Pirlo tetap santai.

’’Saya tetap yakin akan memakan panettone (kue khas Milan yang biasa disajikan saat Natal, Red),’’ ucap Pirlo terkait rumor dirinya yang tidak akan bertahan menangani Juve sampai Natal, seperti dilansir Tuttosport.

Menurut Pirlo, kekalahan 0-2 oleh FC Barcelona di Turin dalam ajang Liga Champions (29/10) cukup berlebihan untuk dijadikan vonis buruknya di Juve musim ini. Masalahnya, performa Juve belum mengesankan saat menghadapi tuan rumah Spezia Calcio dalam giornata keenam Serie A tadi malam (1/11). ’’Lo spirito ala Juve belum muncul bersama Pirlo,’’ tulis Tutto Juve.

Lo spirito ala Juve pernah membuat perbedaan besar pada 2015–2016 atau musim kedua Allegri. La Vecchia Signora yang terlempar dari sepuluh besar dalam sepuluh giornata awal baru bisa meraih capolista pada giornata ke-25. Tetapi, mereka kemudian bablas meraih scudetto.

Musim ini, persaingan di Serie A lebih ketat. Selain Inter Milan, SSC Napoli, SS Lazio, dan kuda hitam Atalanta BC, ada AC Milan yang tampil gemilang. Rossoneri tak terkalahkan dalam 24 laga beruntun di berbagai ajang setelah menang 2-1 di kandang Udinese tadi malam.

Bomber 39 tahun Zlatan Ibrahimovic menjadi penentu kemenangan AC Milan lewat gol akrobatik tujuh menit sebelum waktu normal berakhir. Ibra telah mencetak separo (7 gol) dari 14 gol Rossoneri di Serie A. ’’Gol indah, tapi yang dihitung adalah tiga poin yang berhasil kami raih,’’ ujar Ibra kepada Football Italia.

Terkait kans Rossoneri di persaingan scudetto, Ibra memilih merendah. ’’Musim ini, kami termasuk tim termuda di (liga elite) Eropa dan bisa lebih muda kalau tanpa saya. Tapi, bersama mereka membuat saya tetap muda,’’ tutur Ibra yang merasakan scudetto bersama Rossoneri sedekade lalu (2010–2011).

Di antara lima liga elite Eropa per kemarin, praktis Rossoneri satu-satunya bukan juara bertahan yang memuncaki klasemen. Juara bertahan Premier League Liverpool FC dan kampiun Liga Champions asal Bundesliga Bayern Muenchen malah untuk kali pertama bisa mencicipi posisi teratas. (io/ren/c18/dns)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Bola Eropa