LAS VEGAS – Juara kelas bulu UFC, Alexander Volkanovski, mengeluarkan pernyataan percaya diri namun penuh empati setelah kemenangannya atas bintang baru yang sedang naik daun, Diego Lopes. Volkanovski menilai bahwa Lopes mungkin telah membuat kesalahan strategis terbesar dalam kariernya dengan menerima tantangan melawannya, yang berujung pada hilangnya momentum perebutan gelar juara bagi sang petarung asal Brasil tersebut.
Petarung berjuluk "The Great" ini merasa bahwa dirinya adalah "mimpi buruk" secara taktis bagi Lopes karena perbedaan pengalaman dan kecerdasan bertarung (fight IQ) yang sangat mencolok. Menurutnya, dominasi yang ia tunjukkan di dalam oktagon selama 25 menit penuh adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh petarung lain di divisi tersebut. "Kebanyakan orang lain akan berakhir bertarung mengikuti gaya Lopes karena mereka tidak tahu bagaimana mengendalikan oktagon seperti yang bisa saya lakukan," ujar Volkanovski.
Volkanovski menegaskan bahwa aspek gerakan kaki (footwork) dan strategi permainannya membuat Lopes tampak kehilangan arah sepanjang jalannya laga. Ia merasa kasihan karena kekalahan ini secara otomatis menutup jalan singkat Lopes menuju perebutan sabuk emas. "Saya mungkin lawan terburuk baginya karena IQ, gerakan kaki, dan hal-hal lain yang tidak bisa dia atasi. Sekarang dia telah menyia-nyiakan kesempatannya untuk merebut gelar melawan saya dalam waktu yang singkat," tambahnya.
Kekuatan mental dan fisik juga menjadi poin yang ditekankan oleh Volkanovski. Ia sesumbar bahwa bahkan jika pertandingan harus berlangsung dua kali lipat lebih lama, hasilnya akan tetap sama karena Lopes tidak mampu memecahkan kode pertahanannya. "Saya mungkin satu-satunya orang yang bisa bertarung selama 50 menit dan membuatnya tidak tahu apa yang terjadi selama 50 menit itu," tegas petarung asal Australia tersebut.
Hasil ini mempertegas posisi Volkanovski sebagai salah satu petarung paling cerdas di UFC, sekaligus menjadi pelajaran berharga bagi petarung muda seperti Diego Lopes. Meskipun Lopes dikenal dengan gaya bertarung yang agresif dan berbahaya, menghadapi petarung dengan tingkat disiplin seperti Volkanovski terbukti membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Kemenangan ini pun membawa Volkanovski kembali ke jalur utama dalam persaingan takhta kelas bulu. (*)
Editor : Indra Zakaria