Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Fenomena "Cincin Api" 17 Februari 2026: Hanya Menyapa Antartika, Indonesia Tak Kebagian Jalur

Indra Zakaria • 2026-02-13 14:10:00
Gerhana matahari cincin.
Gerhana matahari cincin.

PROKAL.CO– Fenomena langit spektakuler berupa gerhana matahari cincin diprediksi akan menyapa penghuni Bumi pada Selasa, 17 Februari 2026. Peristiwa langka yang sering dijuluki sebagai "Cincin Api" ini terjadi ketika Bulan berada pada titik terjauhnya dari Bumi (apogee), sehingga tidak mampu menutupi piringan Matahari secara sempurna dan menyisakan lingkaran cahaya terang di tepiannya.

Meski menjadi peristiwa astronomi yang sangat dinantikan, masyarakat di Indonesia harus bersiap kecewa karena jalur gerhana kali ini sama sekali tidak melintasi wilayah tanah air. Fenomena ini secara eksklusif hanya dapat disaksikan di wilayah paling selatan Bumi, dengan jalur utama yang melintasi daratan terpencil Antartika dan perairan Samudra Selatan. Sementara itu, wilayah seperti ujung selatan Amerika Selatan dan Afrika hanya akan kebagian fase gerhana matahari sebagian.

Dilansir national geografic lokasi pengamatan terbaik justru berada di stasiun-stasiun penelitian ilmiah kutub, seperti Stasiun Concordia milik Prancis-Italia dan Stasiun Mirny milik Rusia. Di pangkalan utama Amerika Serikat, Stasiun McMurdo, warga di sana akan menyaksikan pemandangan dramatis di mana Matahari tertutup oleh Bulan hingga mencapai 86 persen. Secara keseluruhan, proses gerhana dari awal hingga akhir akan memakan waktu selama 271 menit.

Berdasarkan data astronomi, puncak fase cincin api diprediksi terjadi pada pukul 12.12 UTC atau sekitar pukul 19.12 WIB. Pada momen puncak tersebut, Matahari akan tertutup hingga 96 persen dengan durasi fase cincin berlangsung selama kurang lebih 2 menit 20 detik. Saat peristiwa ini terjadi, posisi Matahari diketahui tengah berada di konstelasi Aquarius.

Para ahli astronomi mengingatkan bahwa meski tidak tertutup sepenuhnya, menatap gerhana matahari cincin secara langsung tanpa pelindung mata khusus tetap sangat berbahaya bagi kesehatan penglihatan. Walaupun Indonesia absen dalam daftar wilayah pengamatan, fenomena ini tetap menjadi catatan penting bagi dunia sains internasional untuk mempelajari dinamika orbit benda langit serta keindahan mekanika alam semesta. (*)

Editor : Indra Zakaria