WASHINGTON – Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST) kembali mencatatkan sejarah dalam eksplorasi ruang angkasa dengan mengungkap struktur raksasa yang dijuluki "Sulur Kosmik" (Cosmic Vine). Struktur ini merupakan filamen sangat sempit yang membentang sepanjang 13 juta tahun cahaya, menghubungkan setidaknya 20 galaksi dalam satu rantai yang koheren.
Temuan ini memberikan gambaran paling jelas mengenai jaring kosmik (cosmic web) pada masa awal alam semesta. Melalui teknologi inframerah, struktur ini terdeteksi pada pergeseran merah 3,44, yang berarti penampakan tersebut berasal dari saat alam semesta baru berusia sekitar 2 miliar tahun—atau kurang dari 15 persen dari usianya saat ini.
Dalam pengamatan tersebut, galaksi-galaksi ini tidak tersebar secara acak, melainkan tersusun rapi seperti manik-manik pada seutas benang di sepanjang materi gelap yang padat. Para astronom menyebut filamen ini berfungsi sebagai "jalan raya" gravitasi yang menyalurkan aliran gas dingin untuk memicu pembentukan bintang secara intensif dan mempercepat pertumbuhan galaksi.
Bukti Nyata Prediksi Teoretis
Penemuan ini menjadi sangat krusial bagi dunia sains karena membuktikan simulasi komputer yang selama ini memprediksi adanya jaringan filamen sebagai kerangka utama pembentukan gugusan galaksi. Keberadaan struktur semasif dan sekoheren ini di alam semesta muda menjadi bukti langsung yang menguji serta menyempurnakan model pengelompokan materi gelap, dinamika gas, dan fisika barionik.
Data dari JWST menunjukkan kondisi galaksi di dalam sulur tersebut sangat beragam. Beberapa galaksi masih sangat aktif memproduksi bintang-bintang baru, sementara sebagian lainnya tampak telah kehabisan persediaan gas, yang kemungkinan disebabkan oleh proses penggabungan antar-galaksi yang dahsyat di masa awal.
Melampaui Batas Teleskop Sebelumnya
Sensitivitas luar biasa dari Teleskop James Webb memungkinkan para astronom mendeteksi anggota struktur yang sangat redup dan jauh, yang sebelumnya tidak mampu dipecahkan oleh teleskop generasi terdahulu. Temuan ini mengubah prediksi teoretis menjadi pengamatan konkret yang dapat dipelajari secara mendalam.
Hasil studi yang dipublikasikan melalui preprint arXiv ini mempertajam pemahaman manusia tentang asal-usul evolusi galaksi—mengapa beberapa galaksi tumbuh menjadi raksasa sementara yang lain tetap kecil. Selain itu, temuan ini menjelaskan bagaimana jaringan kosmik luas yang kita lihat saat ini mulai berakar sejak alam semesta masih sangat muda. (*)
Editor : Indra Zakaria