MUSCAT – Selama ini, budaya populer sering kali menggambarkan prajurit Arab kuno dengan pedang melengkung atau scimitar yang ikonik. Namun, temuan sejarah dan arkeologi mengungkap fakta yang berbeda bahwa identitas asli senjata bangsa Arab sebenarnya adalah pedang lurus bermata dua. Senjata yang secara umum dikenal dengan sebutan Saif ini bukan sekadar alat perang, melainkan simbol kedaulatan yang telah bertahan melintasi berbagai dinasti dan benua selama lebih dari seribu tahun.
Tradisi pedang lurus ini telah mengakar kuat di Semenanjung Arab bahkan jauh sebelum fajar Islam menyingsing. Ketika ekspansi Islam meluas hingga ke Mesir, Afrika Utara, hingga Andalusia di Spanyol, model pedang ini turut mendominasi wilayah taklukan dan tetap menjadi standar persenjataan hingga awal abad ke-20. Identitas pedang lurus ini mencapai puncaknya pada masa Khalifah Abbasiyah, Abu Ja'far al-Mansur, di mana para pemimpin dan prajurit Arab mengenakannya dengan cara yang sangat khas.
Berbeda dengan pedang modern yang biasanya disematkan di pinggang, para ksatria Arab menggantungkan pedang lurus mereka di bahu menggunakan sabuk khusus yang disebut nijad. Para peneliti sejarah militer mengungkapkan bahwa tradisi mengenakan pedang pada bahu ini berasal dari Nabi Muhammad (saw) dan merupakan kelanjutan dari kebiasaan bangsa Arab pra-Islam. Hal inilah yang membuat pedang lurus dianggap sebagai senjata paling otentik dalam mewakili jati diri kaum Muslim Arab di masa kejayaannya.
Secara teknis, sang Saif memiliki karakteristik unik dengan dua sisi tajam yang dirancang untuk menebas sekaligus menusuk secara efektif dalam pertempuran jarak dekat. Bilahnya yang panjang dan lurus terkadang dilengkapi dengan alur darah atau fuller, serta memiliki pelindung tangan sederhana pada bagian gagangnya. Ketangguhan desain ini juga terlihat jelas di Mesir pada era Mamluk, di mana para Sultan sangat menjunjung tinggi pedang lurus Arab sebagai simbol legitimasi kekuasaan mereka dalam upacara penobatan resmi.
Keindahan estetika pedang ini pun mencapai titik tertingginya di Andalusia. Hingga runtuhnya Kerajaan Nasrid di Granada yang menjadi benteng terakhir Islam di Spanyol, pedang lurus beralur tetap menjadi pilihan utama para raja. Koleksi pedang mewah milik penguasa Nasrid saat ini bahkan diakui sebagai representasi perkembangan paling mutakhir dan indah dari model pedang Arab kuno.
Menariknya, di tengah evolusi global yang mulai mempopulerkan pedang melengkung seperti Shamshir atau Yatagan akibat pengaruh budaya luar, Oman muncul sebagai penjaga terakhir orisinalitas warisan ini. Berkat isolasi geografisnya yang panjang, Oman berhasil melestarikan bentuk asli pedang Arab klasik hingga era modern dan melindunginya dari kepunahan maupun asimilasi budaya. Para pakar sejarah mencatat bahwa kemiripan luar biasa antara pedang Oman, Mamluk, dan Andalusia membuktikan bahwa ketiganya berasal dari satu garis keturunan yang sama, yakni model asli dari jantung Semenanjung Arab yang melambangkan identitas abadi melalui sebilah baja lurus legendaris. (*)
Editor : Indra Zakaria