PROKAL.CO– Di kedalaman hutan hujan tropis yang paling terpencil, sebuah peninggalan hidup dari era prasejarah sedang berjuang melawan waktu. Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), satwa berbulu lebat yang unik, kini bukan sekadar menyandang status langka, melainkan menjadi saksi bisu dari zaman lain yang masih tersisa di bumi kita.
Berbeda dengan kerabatnya di Afrika atau India, Badak Sumatera adalah satu-satunya spesies badak yang memiliki rambut menutupi tubuhnya—sebuah adaptasi evolusi yang memungkinkannya bertahan hidup melewati zaman es yang membeku hingga menghadapi predator purba ribuan tahun silam. Namun, ketangguhan yang telah teruji selama jutaan tahun itu kini nyaris tak berdaya menghadapi tekanan dunia modern.
Saat ini, mahluk misterius ini memilih untuk "menghilang" dan bersembunyi di kantong-kantong kecil hutan hujan yang sangat sulit dijangkau. Saking terisolasinya, beberapa individu diyakini menghuni wilayah yang bahkan belum pernah diinjak oleh kaki manusia.
Data terbaru menunjukkan angka yang sangat menyayat hati bagi dunia konservasi. Diperkirakan hanya tersisa 34 hingga 47 ekor saja yang masih bertahan di alam liar.
"Badak Sumatera bukan hanya langka—ia adalah peninggalan hidup dari era lain," ungkap salah satu praktisi konservasi yang menekankan bahwa kehilangan spesies ini berarti memutus rantai sejarah alam yang tak ternilai harganya.
Populasinya yang sangat kecil dan terfragmentasi membuat peluang mereka untuk bertemu dan berkembang biak secara alami menjadi tantangan yang luar biasa berat. Ancaman kehilangan habitat dan ancaman perburuan liar di masa lalu telah menyudutkan mereka ke titik nadir.
Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa tanpa intervensi yang agresif dan perlindungan habitat yang sangat ketat, dunia mungkin akan segera kehilangan salah satu mahluk paling kuno yang pernah menghuni planet ini. Upaya penyelamatan kini difokuskan pada penggabungan populasi kecil dan program penangkaran semi-alami demi memastikan genetik sang "Badak Berambut" ini tidak lenyap selamanya dari muka bumi. (*)
Editor : Indra Zakaria