TENGGARONG – Fenomena el nino mengakibatkan perairan Sungai Mahakam, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mengering karena kemarau. Terkhususnya di Danau Cascade Mahakam, sebutan bagi kawasan danau besar yang terletak di hulu Kaltim. Tepatnya di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dan Kutai Barat (Kubar). Terdapat tiga danau besar, yakni Danau Melintang, Danau Jempang dan Danau Semayang yang memiliki luasan hingga 39 ribu hektare secara keseluruhan.
Kekeringan yang diperkirakan BMKG akan berlangsung hingga Oktober ini tidak hanya berdampak terhadap alam. Namun juga berimbas terhadap kehidupan ribuan warga yang kehidupannya bergantung dengan perairan. Seperti Desa Melintang, Kecamatan Muara Wis, warga setempat yang berprofesi sebagai nelayan tersulitkan bekerja dikarenakan air yang menyurut. Namun berbeda cerita dengan Desa Pela,Kecamatan Kota Bangun. Yang justru memanfaatkan kekeringan ini sebagai potensi wisata.
Desa Pela sendiri merupakan sebuah desa yang berdampingan langsung dengan Danau Semayang. Di musim kemarau ini, danau seluas 13 ribu hektare tersebut berubah menjadi sebuah padang rumput. Memanfaatkan fenomena alam yang datangnya tidak menentukan ini. Pemdes dan Pokdarwis Pela memutuskan untuk membukanya bagi masyarakat umum sebagai destinasi wisata dadakan. Untuk ikut menikmati keindahan alam yang ditawarkan.
“Ini mulai kering bulan Juli kemarin. Dan bulan Agustus ini mulai timbul rumput hijau. Jadi kami buka untuk masyarakat umum. Karena ini terakhir timbul seluas ini di tahun 2018,” ungkap Kepala Desa Pela, Supyan Noor kepada Prokal.co, Sabtu (12/8) kemarin.
Wisata ke padang rumput Semayang ini sangat sederhana. Namun keindahan alam yang ditawarkan, dari padang rumput hijau seluas 10 hektare yang menghampar bak padang savana. Hingga pemandangan langsung ke Danau Semayang yang luas. Membuat wisatawan yang berkunjung dapat berswafoto dengan pemandangan yang memanjakan mata. Atau sekedar melepas penat dengan suasana yang sejuk dan asri sembari menikmati matahari terbenam.
Untuk menikmati destinasi wisata dadakan ini. Supyan pastikan bahwa pemerintah dan Pokdarwis setempat memfasilitasinya. Mulai dari transportasi hingga akomodasi lain seperti homestay yang disediakan desa wisata ini. Wisatawan sendiri tidak perlu merogoh kocek banyak. Hanya dengan Rp 20 ribu, Pela menyediakan kapal penyebrangan untuk mencapai padang rumput ini. Mulai dari berangkat hingga pulang, wisatawan hanya perlu menunggu di dermaga Desa Liang Ulu, Kota Bangun.
“Kapal ini tersedia untuk pulang pergi. Ada juga opsi lain seperti sewa kapal dengan harga Rp 400 ribu,” jelasnya.
Padang rumput Danau Semayang ini terletak di kawasan perairan yang jauh dari ibukota Kukar, Tenggarong. Untuk mencapainya, diperlukan melalui perjalanan darat selama tiga jam dari Tenggarong menuju Kota Bangun. Setibanya di Kota Bangun, wisatawan diperlukan untuk menunggu di dermaga Pela yang terletak di Desa Liang Ulu. Seusai kapal penyeberangan tiba, maka wisatawan akan melakukan perjalanan air yang memakan waktu hingga 15 menit menuju padang rumput ini.
Sejak awal dibuka bulan Agustus ini, Supyan mengaku bahwa kunjungan wisatawan sangat membludak dibanding hari biasa. Dalam sehari, kunjungan bisa mencapai 500 wisatawan. Dan nominal ini setiap harinya meningkat. Kunjungan wisatawan sendiri tidak hanya datang dari Kukar. Namun hingga Kota Samarinda, Balikpapan beserta Kabupaten Kutai Barat dan Kutai Timur. Untuk menunjang destinasi wisata dadakan ini, Pemdes Pela juga hadirkan spot foto berupa tulisan Pela hingga tempat sampah yang disediakan di beberapa titik.
“Rencananya setelah HUT Kemerdekaan akan kita buka untuk camping dan menambah fasilitas lain. Sambil mempersiapkan keperluan lainnya selama fenomena ini berlanjut,” tutup Supyan. (moe)
Editor : izak-Indra Zakaria