Habis gelap terbitlah terang. Begitulah peribahasa yang cocok mengondisikan di RT 11 Kampung Nelayan Muara Pegah, Kelurahan Muara Kembang, Kecamatan Kutai Kartanegara. Bertahun-tahun lamanya perkampungan di atas air ini tak mendapatkan aliran listrik seperti masyarakat pada umumnya. Namun sejak sembilan bulanan ini, Pertamina Hulu Mahakam (PHM) telah mengubah kampung ini menjadi lebih "hidup" dan bersinar. Warga kini bahagia bisa menikmati aliran listrik melalui program tanggung jawab sosial PHM berupa Solar Home System (SHS) atau listrik dari tenaga surya.
Wawan Lastiawan, Muara Pegah
Kampung Muara Pegah, Kelurahan Muara Kembang, Kabupaten Kutai Kartanegara, berada di muara paling besar yang menghubungkan Sungai Mahakam dengan laut Selat Makassar. Di tepi Muara Pegah ada sebuah perkampungan yang dihuni sekitar 203 jiwa. Rata-rata bermata pencaharian sebagai nelayan.
Inilah lokasi RT 11 Muara Pegah. Menuju ke RT 11 Kampung Nelayan Muara Pegah hanya ada satu transportasi. Yakni menggunakan seatruck dan kapal klotok. Belum ada akses jalur darat.
Lokasinya berada di sebuah pulau kecil yang dipisahkan muara. Kamis (3/10) pagi, rombongan PHM mengajak 35 awak media di Kaltim. Rombongan berangkat menggunakan seatruck dari Jetty HCA Handil, Muara Jawa. Jarak tempuh dari jetty ke Muara Pegah sekitar 40 menit. Sebelumnya perjalanan sekitar dua jam dari Balikpapan menuju Handil, Muara Jawa.
Tahun lalu, sebelum ada program CSR dari Pertamina Hulu Mahakam atau PHM ini, penerangan di Kampung Muara Pegah masih terbatas. Warga masih menggunakan cara lama, yaitu genset.
Cara lama ini cukup merepotkan dan tak tahan lama. Lampu mereka hanya menyala sebentar. Penggunaan bahan bakar terus-terusan saat mengoperasikan genset dirasakan warga sangat berat.
Kondisi itu kini berubah total. Program CSR Kembang Bersinar dari PHM ini mengubah semuanya. Sejak 9 bulan lalu, kampung ini terang benderang. PHM dalam program CSR Kembang Bersinar ini memberikan bantuan berupa alat Solar Home System (SHS). Alat ini dipasang di atap rumah warga. Tenaga surya yang setiap hari menyinari rumah warga mampu menciptakan aliran listrik melalui alat SHS tersebut.
Cara penggunaan alat ini juga sangat sederhana dan mudah. Tenaga surya akan mengisi panel SHS hanya dalam waktu 5 jam. Setelah itu SHS bisa digunakan hingga malam hari. Bukan saja untuk penerangan, tetapi juga alat-alat elektronik seperti blender dan televisi di rumah kini bisa mereka gunakan.
TERIMA KASIH, PHM!
Ketua RT 11 Muara Pegah, Sudirman, mengatakan, kini ia dan warganya sangat bahagia karena bisa menikmati aliran listrik bertenaga surya ini. "Alhamdulillah sekali. Sekarang kami benar-benar sangat terbantu. Listriknya bisa digunakan siang maupun malam hari," ujar Sudirman, yang mengaku masih sering keingatan nyebut PHM dengan nama lama, yakni Total E&P Indonesie.
Sudirman bercerita, pertama kali tinggal di Muara Pegah pada tahun 1989. Ia merupakan pendatang dari Sulawesi Selatan. Termasuk warganya. Mereka datang dari Bone, Sulawesi Selatan. Suasana saat itu masih sepi dan gelap gulita. Rumah-rumah hanya beberapa unit saja yang berdiri.
"Selama kami di sini menggunakan genset dan mesin diesel. Suaranya itu nah ndak tahan bisingnya. Ndak kuat juga bahan bakarnya kalau digunakan dari pagi sampai malam. Sehari bisa 10 liter bahan bakar. Jadi kami siasati hanya gunakan mesin genset sampai jam 12 malam saja," kata pria berusia 46 ini.
Sudirman dan warganya sangat berterima kasih adanya program Kembang Bersinar yang dilakukan PHM ini. Kini, ia dan warga bisa menonton televisi, memutar musik dari DVD, hingga menggunakan alat-alat elektronik di dapur berkat SHS ini.
"Kami dan warga sangat berterima kasih sekali dengan Total (PHM, Red). Sangat terbantu sekali untuk kehidupan sehari-hari di kampung ini. Sudah bisa bikin es blender seperti orang-orang di kota," katanya, lalu tersenyum.
CARA KERJA SOLAR HOME SYSTEM
Sementara itu, petugas maintenance PT PHM, Heryadi, menjelaskan cara kerja SHS yang diterapkan PHM di Kampung Muara Pegah ini. Ia mengatakan, SHS dipasang di tiap rumah warta. Kapasitas total tenaga pembangkit listrik tiap rumah sebesar 600 watt.
Pengisian utamanya berasal dari sinar matahari. Tangkapan panel sebesar 150 Watt Peak (Wp) dengan kapasitas baterai 100ah. Alat ini lanjut Heryadi, dilengkapi kontroler yang mengatur arus DC agar tidak kelebihan energi pada saat pengisian daya. Untuk maintenance alat, warga hanya membayar Rp 100 ribu perbulan.Bagi warga, biaya maintenance sangat murah untuk bisa menikmati aliran listrik.
“Kapasitas 100ah itu tidak dihabiskan semua agar baterai awet. Disisakan sekitar 80ah yang terpakai. Misalkan drop, warga harus menunggu sinar matahari untuk nge-charge,” kata Heryadi.
Dalam sambutannya, Kepala Departemen Media dan Visibility PHM, Weanny Hikmat, saat bertemu perwakilan lurah, Ketua LPM, perangkat RT, dan warga Muara Pegah, mengatakan, program ini merupakan bagian dari kepedulian PHM terhadap warga sekitar wilayah kerja PHM. Dari program ini, ia berharap bisa memberi kontribusi dan manfaat kepada masyarakat di tempat beroperasinya perusahaan. Ia juga berharap, program-program ini bisa menjadi inspirasi perusahaan lain. (pro/one)