Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Dakwah Tanpa Mimbar (1)

Wawan-Wawan Lastiawan • 2022-01-17 20:23:19
Photo
Photo

 

Catatan: Zaki Fuad, Relawan Muhammadiyah

 

MENDUNG masih belum beranjak dari langit. Meski hujan yang turun sejak Jumat (7/1) siang berangsur reda. Air dari langit itu sudah menyiram bumi hingga menjelang Ashar. Saya pun menuju masjid Pesantren Al-Mujahidin di dekat rumah, di Km 10, Balikpapan Utara. Saat menginjakkan kaki di dekat pos satpam tampak beberapa mobil terparkir. Dari barisan kendaraan roda empat ini ada mobil putih yang tidak asing bagi saya.

Kaca mobil di pintu sopir pun diturunkan. Muncul wajah seorang teman yang sudah sering bertemu. Kami pun bersalaman. "Aku salat Ashar dulu ya," ujarku singkat. "Siap aman aja tak tunggu," jawabnya. Teman ini juga usai mengantarkan anaknya yang bersekolah di pesantren tempatku menumpang salat. Sehari sebelumnya kami sudah sepakat berangkat bersama ke Kampung Jambuk Makmur, Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat.

Setelah salat, kami pun bersiap melakukan perjalanan. Ada lima orang yang tergabung dalam mobil Fortuner milik Iwan Sulistia dari Kabupaten PPU ini. Dia juga menjabat Sekretaris Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) Kaltim. Jumlah kami masih bertambah dengan empat orang lainnya yang bergabung dari Samarinda menuju lokasi yang sama. Inilah awal mula perjalanan kembali menyusuri jalan poros Kaltim. Kali ini kami tergabung dalam program “Khitanan Keliling” untuk daerah pedalaman. 

Sekitar pukul lima sore, pria yang dulu merupakan adik kelas saya di Pondok Pesantren Al-Mujahidin Balikpapan ini mulai mengemudikan mobilnya. Rombongan kami pun mengaspal membelah jalanan dari Kota Minyak menuju Kabupaten Kutai Barat. Di tengah-tengahnya masih ada Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara yang akan kami lewati. 

Satu jam perjalanan kami singgah mengisi perut di rumah makan Tahu Sumedang. Tampak tempat makan ini tidak seramai dahulu. Mungkin karena cuaca yang sedang hujan. Mungkin juga karena sudah ada jalan tol yang memangkas waktu perjalanan menuju Samarinda dan sekitarnya menjadi 1 jam. 

Biasanya tempat parkir di rumah makan ini penuh dengan kendaraan baik roda 2 maupun 4. Utamanya saat makan siang.

“Biasa penuh orang makan jam segini,” kataku. “Mungkin sudah ada tol jadi mereka lebih pilih lewat sana,” sambung Iwan. Tak lama hidangan pun tersaji. Lumayan mengganjal perut dan menghangatkan badan di tengah udara yang cukup dingin. Kami berlima mulai melahap makanan beserta minumannya. 

Setelah itu perjalanan pun berlanjut. Karena tidak lewat tol kami melintasi Bukit Soeharto. Kawasan ini sejak dulu menjadi pusat lalu lintas dari wilayah selatan Kaltim menuju kabupaten kota lainnya di Kaltim. Sepanjang jalan pepohonan mengisi penglihatan di kiri kanan. Banyak juga bekas pohon tumbang karena angin kencang dan hujan deras sejak beberapa bulan terakhir. Kontur jalanan berliku dan menanjak mendominasi jalur ini. Para pengemudi yang melintas harus berhati-hati terutama saat berpapasan dengan kendaraan lainnya.

Sekitar pukul 7 malam sampailah di masjid Cheng Hoo. Di sini kami menunaikan Salat Magrib dan Isya secara jamak sebelum melanjutkan perjalanan. Perkiraan waktu tempuh dari Balikpapan menuju Bongan, Kutai Barat, sekitar 7-8 jam. Namun informasi terakhir menyebutkan titik kerusakan jalan terus bertambah. Kondisi ini bisa memperlama waktu perjalanan. Sebenarnya mencapai Bongan lebih dekat melalui Kabupaten PPU. Namun jalanan yang rusak parah membuat kami tidak memilih jalur tersebut.

Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Adanya rasa kantuk membuat Iwan meminggirkan mobilnya untuk beristirahat sejenak. Kami pun singgah di masjid Al-Ihya’ yang berada di Kecamatan Loa Ipuh Darat, Kabupaten Kukar. Rombongan dari Samarinda sempat menelepon dan menanyakan lokasi kami. Jadi diputuskan menunggu mereka agar bisa berangkat bersama.

“Ayo kita ngopi,” ujar Rohiman kemudian. Pria asal Kota Baru, Kalsel, ini dengan sigap mengeluarkan kompor jinjing yang dibawanya. Dia juga menyiapkan kopi sachet dan mi instan yang dibelinya saat mengisi BBM di Km 28 Samboja, Kukar. Sementara saya dan tiga teman lainnya merebahkan diri sejenak untuk meluruskan pinggang. 

Tidak berapa lama sampailah rombongan dari Samarinda menyusul kami. Ada empat orang yang berada dalam mobil Triton milik Universitas Muhammadiyah Kaltim ini. Salah seorang dari mereka membawakan nasi kotak dan snack. Pembicaraan menjadi lebih hangat diselingi canda tawa dari teman-teman yang baru hadir. 

Waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam. Mengingat lokasi tujuan masih jauh kami mulai bersiap melanjutkan perjalanan. Informasi banyaknya titik kerusakan jalan pun ada benarnya. Mobil rombongan tidak bisa melaju kencang akibat lubang menganga secara merata. Di tambah lagi tidak ada jalur alternatif selain yang kami lewati. Jadilah mobil bergoyang-goyang mengikuti besar kecilnya lubang yang menganga. Air hujan pun cukup setia menemani di perjalanan.

Mendekati pukul tiga subuh, rombongan memilih singgah di sebuah musalah di Desa Muara Leka masih dalam Kabupaten Kukar. Informasi Google Maps menunjukkan waktu tempuh masih tersisa dua jam lagi. Jadi kami memutuskan tidur di sini. Dua jam terlelap Azan Subuh pun berkumandang membangunkan kami yang sempat tertidur melepas lelah. (far)

Editor : Wawan-Wawan Lastiawan
#balikpapan