SAMARINDA - Emas hitam atau batubara terlihat menempuk di belakang pemukiman warga jalur 1 Jl Lobang Tiga Kelurahan Loa Bakung Kecamatan Sungai Kunjang, Minggu 12 November 2023, siang.
Batubara tersebut diduga dari pengerukan galian tak jauh dari tempat penumpukannya berada sedikit menanjak bukit sekitar 300 meter. Terdapat dua unit excavator dan dua dump truk terparkir di lokasi itu.
Saat media ini mengunjungi lokasi, tak ada aktivitas galian dan pemilik maupun operator alat berat. Hanya bekas galian cukup dalam dengan air tergenang, terpampang. Menengok ke atas lagi, terlihat papan nama pengumuman lokasi lembaga pendidikan, Muhammadiyah.
Kondisi tambang batubara yang dekat pemukiman ini, Ketua RT 48 Kelurahan Loa Bakung, Tamrin mengaku kegiatan tambang berhenti beroperasi, karena ada pihak dari eks Hartati atau HJP mengklaim lahan tambang merupakan miliknya.
Ia pun mengaku pihak penambang ada meminta izin beroperasi kepada dirinya mengaku dari CV RKA (Reagent Kaltim Anugerah). Dan menyatakan tambang batubara yang beroperasi mempunyai izin resmi.
"Ada 4 orang yang datang kepada saya. Mereka bicara lisan saja, anggaplah minta izin formal kepada saya sebagai Ketua RT. Soal (izin resmi) tambang, saya tidak mengerti. Tetapi, kalau ada dampak dari tambang ditimbulkan merugikan warga, saya bilang ke penambang akan berhadapan dengan saya," ujar Tamrin.
Aktivitas tambang batubara, berjalan pada bulan Oktober 2023 berawal pematangan lahan. Kemudian, berhenti galian tambang, karena ada pihak eks Hartati protes mengakui lokasi tambang di berada di lahannya. Tamrin, pun mendapat laporan penghentian tambang tersebut. Ia pun langsung melaporkan ke Babinsa.
Sampai akhirnya, ia pun mendapat surat pemanggilan dari Polda Kaltim, untuk dimintai keterangan terkait tambang batubara ilegal dan penyerobotan lahan. Namun, ia tak bisa hadir karena mesti ke Polda Kaltim berada di Balikpapan.
"Saya tak hadir, karena pemanggilan harus ke Balikpapan. Andai saja di Samarinda, saya bisa saja hadir (pemanggilan)," ujar Tamrin.
Sejauh ini, tambang batubara di wilayahnya, Tamrin mengaku belum ada warga yang mengeluh. Soal ada banjir lumpur terjadi di lingkungannya dikarenakan ada banyaknya pematangan lahan di sekitar bukit.
"Saya tidak membela tambang batubara. Tetapi sebelum ada tambang batubara, disini sudah terjadi banjir. Tetapi, banjir disini tidak parah, karena hanya air lewat saja dari Pal Besi ke Padat Karya," ujarnya.
Adapun, alat berat berada di tambang batubara, dikatakan Tamrin, tidak melintasi jalan umum pemukiman warga JL Lobang Tiga. Alat berat ke lokasi tambang melalui jalan-jalan yang tembus dari jalan hauling BBE. (*)
Editor : izak-Indra Zakaria