BALIKPAPAN – Warga Balikpapan dan sekitarnya dalam sepekan terakhir harus berhadapan dengan suhu udara yang menyengat. Meski secara kalender saat ini merupakan periode musim hujan, anomali cuaca justru menyebabkan suhu udara meningkat signifikan hingga menyentuh angka 34–35 derajat Celsius.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan: beberapa titik di Kalimantan tercatat telah melewati lebih dari 10 hari berturut-turut tanpa turun hujan. Kondisi kering ini memicu munculnya ratusan titik panas (hotspot) yang menjadi alarm peringatan dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pihak BMKG menjelaskan bahwa panas ekstrem ini terjadi karena minimnya pembentukan awan hujan di langit Kalimantan. Hal ini disebabkan oleh absennya gangguan atmosfer skala besar, seperti Madden Julian Oscillation (MJO), yang biasanya menjadi motor penggerak uap air untuk membentuk awan.
Selain itu, posisi geografis Kalimantan saat ini tidak berada pada jalur utama angin pembawa uap air dari benua Asia. Fenomena menarik lainnya adalah aktivitas pembentukan awan hujan justru lebih dominan terpusat di wilayah selatan Indonesia, meninggalkan Kalimantan dalam kondisi cuaca cerah dengan intensitas penyinaran matahari yang sangat tinggi.
“Masyarakat diimbau untuk menjaga kondisi kesehatan dengan mencukupi asupan cairan dan menghindari aktivitas berlebihan di luar ruangan pada siang hari,” tulis BMKG dalam keterangannya.
Meski suhu terasa memanggang, BMKG memprakirakan kondisi ini akan berangsur mereda dalam beberapa hari ke depan seiring dengan pergeseran pola cuaca regional. Namun, hingga hujan kembali turun secara merata, kewaspadaan terhadap potensi karhutla dan dampak dehidrasi tetap menjadi prioritas utama bagi warga di Kalimantan Timur. (*)
Editor : Indra Zakaria