Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Menyantap Nasi Pecel Madiun Ala Mantan Jurnalis, Pilih-Pilih sesuai Selera

Redaksi • Rabu, 6 Mei 2026 | 18:21 WIB
SANTAP SIANG: Bambang Janu Isnoto (berdiri, pakai topi) bersama karyawan Kaltim Post Group yang mampir ke warungnya, Rabu, 6 Mei 2026. ANGGI PRADITHA/KALTIM POST
SANTAP SIANG: Bambang Janu Isnoto (berdiri, pakai topi) bersama karyawan Kaltim Post Group yang mampir ke warungnya, Rabu, 6 Mei 2026. ANGGI PRADITHA/KALTIM POST

PROKAL.CO, BALIKPAPAN-Rabu (6/5/2026), pukul 11.52 Wita, Kota Balikpapan di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) lagi panas-panasnya. Terik mentari cetar menggigit kulit.

Saat itu media ini sedang melintas di Jalan MT Haryono, dari arah Living Plaza. Siang. Panas. Belum makan. Tenggorokan kering. Cari tempat makan pas ini.

Jalan MT Haryono memang gudangnya destinasi kuliner. Mau yang tradisional khas Indonesia. Sampai restoran dan aneka makanan cepat saji ala Amerika dan Eropa. Tinggal pilih.

Baca Juga: Nakes Puskesmas Kukar Kerja Berlebihan, DPRD Dorong Evaluasi Layanan 24 Jam 

Namun, ketika itu kendaraan diarahkan ke salah satu titik di salah satu jalan terpanjang di Kota Balikpapan itu. Di area belakang Fit Hub dan Scako Balikpapan.

Nah, di sini ada rumah makan baru. Baru saja buka. Masih belia. Siap meramaikan khazanah kuliner Kota Minyak, sebutan Balikpapan. Menunya Indonesia banget. Nasi pecel. Namanya, Nasi Pecel Madiun Prasmanan.

Bambang Janu Isnoto, mantan Pemimpin Redaksi (Pemred) Kaltim Post, adalah pemilik warung ini.

“Sejak awal saya memang sudah berpikir, nanti kalau sudah tidak di jurnalistik, saya harus punya dunia lain yang saya tekuni,” ucapnya saat bincang dengan media ini di sela menyantap nasi pecel racikannya.

Dunia lain itu bukan sepenuhnya asing baginya. Setelah aktif juga di bidang hukum sebagai lawyer, Bambang memilih masuk ke bisnis kuliner. 

Pilihannya jatuh pada nasi pecel Madiun, makanan yang menurutnya sederhana, tetapi memiliki kekuatan sosial yang besar.

“Nasi pecel itu makanan yang bisa diterima hampir semua lidah. Bukan hanya orang Jawa, walaupun asalnya dari Jawa,” katanya.

Di tangan Bambang, nasi pecel bukan sekadar menu makan siang. Ia melihatnya sebagai produk budaya yang mampu menembus batas kelas, profesi, bahkan waktu makan. 

Pecel bisa dimakan pagi, siang, sampai malam. Bisa diterima pegawai kantor, pekerja lapangan, hingga keluarga.

Cara berpikir itu terasa seperti naluri seorang jurnalis yang terbiasa membaca data sosial. 

Baca Juga: Mentan Amran Sulaiman Siapkan Mahasiswa Jadi Penerus Arah Pertanian Nasional

“Di Balikpapan ini sekitar 42 persen warganya orang Jawa atau keturunan Jawa. Saya melihat ada potensi di situ,” sebutnya.

Namun, Bambang sadar, menjual nostalgia saja tidak cukup. Ia harus menciptakan pengalaman makan yang berbeda dari warung pecel kebanyakan.

Karena itu konsep utama yang ia bangun adalah “kebebasan memilih”.

Pelanggan diperbolehkan menentukan sendiri porsi nasi, tingkat kepedasan sambal, hingga kombinasi lauk yang diinginkan. 

Di meja penyajian tersedia beragam pilihan seperti ayam goreng, paru goreng, telur asin, telur goreng, tahu, tempe serta lauk lainnya.

“Yang membedakan ya itu, konsumen lebih nyaman. Mereka bisa menentukan sendiri porsinya, sambalnya seberapa pedas, pilih lauk apa,” katanya.

Bahkan sambalnya dibuat dua jenis, pedas dan tidak pedas, agar semua kalangan bisa menikmati tanpa merasa dipaksa mengikuti standar rasa tertentu.

Baca Juga: Skema Diubah, Dana Rp150 Juta per RT di Kukar Kini Lewat Kecamatan untuk Cegah Pungli

Di tengah maraknya usaha kuliner yang berlomba tampil estetik demi media sosial, Bambang justru lebih fokus pada rasa aman pelanggan. 

Ia sengaja menempatkan area makanan dalam ruang tertutup meski konsep tempatnya semi-outdoor.

“Ini untuk menjaga kebersihan. Makanan itu tidak cukup hanya enak, tapi juga harus bersih. Itu bentuk menghargai konsumen,” tuturnya.

Pandangan itu terasa lahir dari pengalaman panjangnya mengelola organisasi besar. 

Ia memahami bahwa kepercayaan publik dibangun dari detail-detail kecil yang sering tidak terlihat.

Hal lain yang menarik, Bambang tidak memosisikan warungnya sebagai tempat makan eksklusif.

Ia sengaja menyesuaikan harga dengan lingkungan sekitar yang dipenuhi kantor dan pekerja harian. 

“Harga harus masuk akal,” katanya.

Di balik hitung-hitungan sederhana itu, sebenarnya Bambang sedang menerapkan filosofi ekonomi yang jarang dibicarakan di bisnis kuliner, menjaga keberlanjutan pelanggan lebih penting daripada mengejar keuntungan sesaat.

Rencananya, usaha tersebut buka mulai pukul 10.00 pagi hingga 21.00 malam. Namun, Bambang tidak ingin tempat itu berhenti sebagai warung makan siang biasa. 

Pada malam hari, konsepnya berubah menjadi semi-kafe dengan tambahan menu seperti kentang goreng dan sajian menu santai lainnya.
Ia ingin tempat itu hidup mengikuti ritme kota.

Siang melayani pekerja yang butuh makan cepat dan terjangkau. Malam menjadi ruang singgah yang lebih santai.

Baca Juga: Gacor! Hanya Mariano Peralta dan Tyronne Del Pino yang Tembus "Double-Double" di Super League Musim Ini

Menariknya, perpindahan Bambang dari media ke kuliner sebenarnya tidak benar-benar membuatnya meninggalkan dunia lamanya. 

Jika dulu ia membaca kebutuhan publik lewat berita, kini ia membacanya lewat antrean pelanggan, pilihan sambal, hingga lauk yang paling cepat habis.

“Yang penting konsumen nyaman,” ucapnya. (far)

Ulil Muawanah

Editor : Faroq Zamzami
#nasi pecel Madiun #balikpapan #kuliner