PROKAL.CO- Deru ombak besar di Pantai Bandara Sepinggan Lama, Kelurahan Gunung Bahagia, Balikpapan Selatan, kini menjadi pemandangan yang sunyi dari aktivitas hilir-mudik perahu. Sejumlah nelayan tradisional di kawasan tersebut terpaksa menambatkan perahu mereka rapat-rapat di tepi pantai. Mereka memilih berhenti melaut akibat hantaman ganda: cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi musim angin selatan dan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mencekik modal operasional.
Kombinasi pahit ini membuat para nelayan kecil merugi sebelum sempat meluncur ke laut. Pendapatan yang tidak menentu dari hasil tangkapan kini sama sekali tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan untuk membeli bahan bakar.
Salah seorang nelayan setempat, Jabir, mengaku sudah hampir satu bulan penuh dirinya hanya bisa memandangi laut lepas tanpa bisa berbuat banyak. Menggunakan perahu bermesin sederhana di tengah gulungan ombak besar dari angin selatan dinilainya terlalu bertaruh nyawa. Beban itu kian berat karena urusan isi tangki bensin yang makin menyulitkan.
"Sudah hampir sebulan tidak melaut. Selain gelombang tinggi, harga BBM juga naik. Kalau pakai Pertalite harus antre lama, bisa berjam-jam dan jalanan juga macet," keluh Jabir saat ditemui di pesisir pantai.
Selama masa-masa sulit ini, Jabir hanya bisa menghabiskan waktu dengan membersihkan lambung perahu dan merawat jaringnya yang mengering. Sekali melaut, perahu kecilnya setidaknya menelan 10 liter bahan bakar di luar kebutuhan oli mesin. Jika beruntung saat cuaca normal, ia bisa membawa pulang uang sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Namun, di tengah kondisi laut yang mengamuk seperti sekarang, berspekulasi ke tengah laut dinilai sebagai langkah bunuh diri bagi dompetnya.
Nasib serupa juga dirasakan oleh Hanafi, nelayan Sepinggan Lama lainnya. Ia membenarkan bahwa mayoritas rekannya sesama pencari nafkah di laut memilih untuk menepi massal sampai alam kembali bersahabat. "Sudah sekitar tiga minggu kami berhenti melaut. Kalau cuaca sudah bagus, baru kembali mencari ikan," ungkap Hanafi.
Mesin perahu milik Hanafi yang menggunakan sistem pembakaran campuran menuntut pasokan BBM dan oli dalam porsi yang lebih boros. Dengan kebutuhan minimal 10 liter per trip, kenaikan harga komoditas energi ini otomatis memangkas keuntungan bersih yang bisa ia bawa pulang untuk anak dan istri di rumah.
"Pendapatan nelayan memang tergantung cuaca. Tapi kalau biaya BBM naik, otomatis pengeluaran juga bertambah. Jadi hasil yang dibawa pulang semakin berkurang," pungkas Hanafi dengan nada lirih.
Kini, para nelayan kecil di Balikpapan Selatan hanya bisa menggantungkan asa pada langit dan kebijakan pemerintah. Mereka berharap musim angin selatan segera berlalu agar ombak kembali tenang, seraya menaruh harapan besar agar ada skema bantuan atau stabilitas harga bahan bakar yang bersahabat bagi kelangsungan hidup masyarakat pesisir. (*)
Editor : Indra Zakaria