Adakah Hubungan Naiknya Harga Plastik Salome dengan Ketegangan di Selat Hormuz

Faroq Zamzami • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:00 WIB
Kumpulan kapal di Selat Hormuz, terlihat di Musandam, Oman.
KETEGANGAN GLOBAL: Kumpulan kapal di Selat Hormuz, terlihat di Musandam, Oman.

PROKAL.CO-Rabu (12/8/2026), sekitar pukul 12.00 Wita, saya mampir di salah satu penjual salome di Jalan AW Syahrani di Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan.

Kawasan ini lebih dikenal dengan sebutan Somber. Paklik salome yang saya tuju saat itu ada di sisi kanan jalan arah dari simpang tiga Jalan Soekarno-Hatta, Km 3-Somber, setelah Kampus Universitas Tridharma (Untri) Balikpapan.

Ada dua varian salome yang dijual paklik itu, yang selalu didampingi istrinya, terkadang juga ditemani anak mereka. Salome goreng dan salome rebus. Paling laris salome goreng.

Setelah memarkir motor matik tepat di depan rombong salome, saya langsung menghampiri penjual. Saat itu salome yang dijual sudah tinggal sedikit, sudah mau tutup. Paklik itu memang tutup sekitar waktu itu pukul 12.00 atau lebih.

Saat itu hanya saya pembeli. Saat paklik membuatkan pesanan saya, baru datang dua pembeli lain. Paklik pedagang salome ini salah satu yang terlaris di Balikpapan. Sejauh pengetahuan saya, dia berjualan sekitar pukul 08.00 Wita hingga sebelum pukul 13.00 Wita.

Pentol gorengnya banyak yang suka. Sambalnya juga pas. Selain itu, paklik itu juga ramah. Selalu menawarkan untuk menyicipi salome goreng yang matang di wadah kotak aluminium kepada tiap pelangganya yang baru datang.

“Cicipi. Coba saja, saya rela,” kalimat itu sering terucap kala dia menawarkan pelangganya untuk menyicipi. Dia juga ramah dengan pelangganya, dan biasanya memanggil pelanggannya dengan sebutan kawan.

Saat memesan salome hari itu, saya terlibat perbincangan singkat dengan paklik itu. Kurang lebih begini percakapan kami.

Saya (S): Salome Rp 10 ribu. Campur aja yang goreng sama yang rebus.
Paklik (P): (Mengambil plastik, menyendok salome ke dalam plastik). Ayo, Mas, cobain.
S: Iya. Nanti saja sekalian. 
P: (Ingin mengemas salome pesanan saya menjadi dua plastik. Masing-masing Rp 5 ribu)
S: Jangan dipisah, Pak. Jadi satu aja. Harga plastik mahal.
P: Enggak apa-apa sekarang sudah enggak naik.
S: Turun lagikah harganya (plastik)?
P: Enggak turun. Harganya berganti.
S: Hahaha. Ganti apa emang. Dulu naikkan harga plastik sempat ramai itu.
P: Iya naik. Pas ramai-ramai Selat Hormuz itu. Harga plastik naik.
S: Masa iya, Pak. Harga plastik naik gara-gara Selat Hormuz.
P: Hahaha. Enggak tahu saya. Yang saya tahu, harga plastik naik pas ramai Selat Hormuz itu. Sekarang sudah enggak. Sekarang harganya berganti.
Pelanggan pria yang tadi hanya mendengar percakapan kami lantas menimpali,”Kaya apa itu harga berganti.”

Paklik pun menuntaskan mengemas pesanan saya. Plastik yang sudah penuh diisi salome seharga Rp 10 ribu itu lantas diserahkannya kepada istrinya untuk dibungkus.
“Jangan diikat,” katanya, kepada Istrinya. “Masih panas,” lanjutnya.

Paklik itu tahu, setiap saya beli salome di tempatnya, selalu meminta untuk jangan diikat, karena salome goreng yang dijualnya selalu dalam keadaan panas. 

Masalah di Selat Hormuz memang ramai beberapa waktu lalu. Selat Hormuz ditutup oleh Iran (melalui Angkatan Laut Garda Revolusi Islam / IRGC dan Markas Besar Pusat Khatam Al-Anbiya). 

Penutupan atau pembatasan ketat ini dilakukan sebagai respons atas ketegangan militer dan serangan yang melibatkan Amerika Serikat serta sekutunya di kawasan tersebut, saat itu. 

Indonesia, dan banyak negara di Asia Tenggara, yang jauh dari selat itu, kena imbasnya. Terutama, isu soal pasokan bahan bakar minyak (BBM). Kabarnya juga memengaruhi harga plastik di Indonesia. (far)

Editor : Faroq Zamzami
selat hormuz salome harga plastik balikpapan