Rizky Prasetya Bawa Pengalaman SUCI XI ke Tenggarong, Dorong Komika Daerah Lebih Konsisten

PROKAL.CO, TENGGARONG – Panggung kecil di sebuah kafe di Tenggarong menjadi tempat Rizky Prasetya kembali mengasah materi komedinya sebelum kembali merantau ke Ibukota Jakarta. Juara 1 Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) XI KompasTV itu tampil dalam agenda Open Mic Stand Up Comedy di Haha Cafe, Jalan Patin, Kelurahan Timbau, Rabu (12/8/2026) malam.
Kehadiran Rizky membawa pengalaman dari panggung kompetisi nasional ke Kota Raja. Ia tampil bersama Budi Hardian, peserta SUCI X, dalam agenda rutin komunitas Stand Up Comedy Indonesia Tenggarong bertajuk “Coba Aja Dulu”.
Puluhan penonton menyaksikan penampilan para komika malam itu. Kegiatan juga diramaikan komunitas Stand Up Comedy Indonesia dari Samarinda yang turut bergabung dalam panggung terbuka tersebut.
Bagi Rizky, kembali tampil di depan penonton setelah cukup lama vakum menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ia mengaku antusiasmenya kembali tumbuh setelah merasakan lagi atmosfer panggung.
“Seru juga. Saya merasa enak, apalagi setelah lama nggak ke sini. Jadi pas balik lagi, antusiasmenya kembali lagi. Semoga Stand Up Tenggarong makin berkembang dan jangan bubar lah pokoknya,” kata Rizky. Menurut Rizky, komunitas stand-up comedy di Tenggarong masih berada dalam tahap membangun kembali kualitas dan karakter komikanya. Karena itu, latihan dan keberanian untuk terus tampil menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

“Kalau kualitas jokes sebenarnya masih dalam proses, karena komunitas ini baru mulai ada lagi. Jadi masih meraba-raba bagaimana caranya main di Tenggarong dan segala macam,” ujarnya. Ia membandingkan kesempatan tampil di daerah dengan ekosistem stand-up comedy di Jakarta yang memiliki open mic hampir setiap hari. Frekuensi tampil yang lebih sedikit membuat komika daerah harus mencari cara agar waktu latihan dan penulisan materi tetap maksimal.
“Kita tidak bisa memungkiri, di Jakarta ada open mic setiap hari. Kalau di sini mungkin seminggu sekali, jadi effort-nya harus lebih,” jelasnya. Pengalaman tersebut juga dirasakan Rizky ketika berpindah dari Samarinda ke Jakarta. Selama tiga bulan, ia mengaku menulis materi dan mengikuti open mic setiap hari untuk menguji bahan komedinya.
“Mau lucu atau tidak lucu, bodo amat. Yang penting materi dan adat menulis. Jadi kalau ingin anak-anak di sini bisa pergi ke tingkat nasional, effort-nya harus lebih dan harus lebih berusaha lagi,” katanya.
Bagi Rizky, panggung daerah bukan sekadar tempat mencari tawa. Open mic menjadi ruang untuk menguji materi, menemukan karakter, sekaligus membangun mental sebelum seorang komika mencoba panggung yang lebih besar.
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi komika di Kalimantan Timur. Menurut pria kelahiran Kota Samarinda ini, keberadaan komunitas harus terus dijaga agar setiap tahun selalu muncul komika baru yang mampu bersaing di tingkat nasional.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



