BALIKPAPAN — Penderitaan mendalam dialami seorang janda muda berinisial EY (30) di Balikpapan. Meski telah resmi bercerai sejak Oktober 2025 lalu, hidupnya terus dibayang-bayangi teror mengerikan dari mantan suaminya, NG (32). Tak hanya menjadi korban pemerkosaan berulang di bawah ancaman penyebaran video intim, EY juga harus hidup dalam ketakutan atas ancaman pembunuhan yang menyasar dirinya dan sang anak. Demi menyelamatkan nyawanya, EY akhirnya memberanikan diri melaporkan aksi keji mantan suaminya tersebut ke kantor polisi pada Rabu (19/8/2026) malam.
Diancam Video Asusila hingga Kamar Diterobos Dini Hari
Aksi kekerasan seksual dan intimidasi NG dinilai sudah melampaui batas. Terlapor diduga memanfaatkan rekaman video pribadi saat masih berstatus suami istri untuk memeras korban agar mau melayani nafsunya. Jika korban menolak, ancaman penyebaran video tersebut menjadi senjata utama pelaku. Pelaku juga kerap menyusup melompati pagar rumah dan masuk ke dalam kamar tidur korban pada dini hari tanpa izin.
"Kalau tidak dilayani dia mengancam akan menyebarkan video hubungan badan kami. Saya diancam dibunuh, anak saya dibunuh, atau dia bunuh diri," ungkap EY saat membeberkan kisah kelamnya, Rabu (19/8/2026) malam.
Penyelidikan mengungkap bahwa tabiat kasar NG telah berlangsung sejak mereka masih terikat pernikahan. EY mengaku mengalami sedikitnya tiga kali kekerasan fisik berat. Penganiayaan pertama terjadi saat korban sedang hamil lima bulan.
Kekerasan berikutnya terjadi usai korban melahirkan. Ketika sedang memompa ASI, pelaku tanpa belas kasihan memukul, mencekik, dan menjatuhkan korban yang sedang menggendong bayinya yang baru berusia tiga bulan. Saat itu korban tak berdaya meminta pertolongan karena ponselnya selalu disita pelaku.
Manfaatkan Latar Belakang Psikologi untuk Gaslighting
Aksi NG kian terstruktur lantaran latar belakang pendidikannya di bidang psikologi. Ilmu tersebut diduga kuat disalahgunakan untuk melakukan intimidasi dan manipulasi mental (gaslighting) secara sistematis, hingga membuat korban merasa pantas menerima penganiayaan. "Saya mengalami gaslighting dan dibuat percaya bahwa kekerasan itu adalah kesalahan saya. Dia bahkan bilang 'Kamu pantas dipukul karena kamu tidak punya seorang ayah'," tutur EY.
Kini, laporan resmi telah ditangani oleh pihak kepolisian. Publik mendesak aparat bergerak cepat menangkap pelaku guna memberikan perlindungan hukum penuh bagi korban dan anaknya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : balpos.com