Bendungan Teritip Menyusut Kritis, Pasokan Air PDAM Balikpapan Anjlok 50 Persen

Redaksi Prokal • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 09:25 WIB
Kondisi Bendungan Teritip, Balikpapan, yang mengalami penyusutan air akibat kemarau. (Foto Mella/Balikpapan Pos)
Kondisi Bendungan Teritip, Balikpapan, yang mengalami penyusutan air akibat kemarau. (Foto Mella/Balikpapan Pos)

BALIKPAPAN — Ancaman krisis air bersih mulai membayangi aktivitas harian warga Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Kemarau panjang yang melanda wilayah ini menyebabkan volume cadangan air di Bendungan Teritip terus mengalami penyusutan signifikan. Merespons kondisi kritis ini, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV mengambil langkah tegas dengan membatasi pengambilan air baku untuk kebutuhan pelanggan PDAM demi menjaga persediaan air tidak lenyap sebelum musim penghujan tiba.

Langkah pembatasan debit air terpaksa diterapkan sebagai mitigasi darurat bencana kekeringan di Balikpapan. Kepala UPB Wilayah 1 BWS Kalimantan IV, Fatturrahman, menegaskan bahwa kebijakan ini mendesak diambil mengingat sisa cadangan air waduk yang terus menipis tanpa adanya pasokan air hujan.

Saat ini, volume air baku yang disalurkan ke instalasi PDAM bertahan di angka 110 liter per detik. Angka distribusi tersebut merosot hingga 50 persen jika dibandingkan dengan kondisi suplai normal yang biasanya stabil di angka 220 liter per detik.

Bahkan, warga Balikpapan harus bersiap menghadapi skenario yang lebih berat bulan ini. Jika hujan tidak kunjung turun hingga pertengahan Oktober 2026, jatah pengambilan air diprediksi akan dipangkas kembali menjadi hanya 90 liter per detik.

Pemantauan visual di lokasi Bendungan Teritip menunjukkan kondisi ekologi yang sangat memprihatinkan. Fatturrahman mengungkapkan bahwa elevasi atau muka air waduk telah mengalami penyusutan ekstrem hingga turun sekitar 2 meter, dan hanya menyisakan volume air di kisaran 850 meter kubik.

Dampak visual dari krisis air ini terlihat jelas di kawasan pinggiran bendungan. Beberapa area cekungan yang sebelumnya terendam air kini berubah drastis menjadi hamparan daratan gersang. Tanah di sekitar waduk mengering dan retak-retak. Fatturrahman mengonfirmasi bahwa dampak kemarau tahun ini dirasakan lebih parah menguras sumber air dibandingkan fenomena El Nino pada 2023 lalu.

Sebagai salah satu urat nadi utama pasokan air bersih bagi ribuan rumah tangga di Balikpapan, kelangsungan Bendungan Teritip kini bergantung penuh pada siklus cuaca. Pihak BWS Kalimantan IV terus berpacu dengan waktu, berharap hujan segera turun untuk menghentikan penyusutan air yang kian masif.

Kabar baiknya, prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan angin segar. Curah hujan diproyeksikan mulai membasahi kawasan Balikpapan pada rentang bulan Oktober hingga November 2026.

"Kalau hujan sudah turun merata dan kondisi debit bendungan kembali normal, pengambilan air baku untuk operasional PDAM tentu bisa kita kembalikan seperti biasa," tutup Fatturrahman. (*)

Editor : Indra Zakaria
Sumber : prokal.co
Bendungan Teritip balikpapan